JAKARTA, SPN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Kamis (5/11/2026), diprediksi masih bergerak konsolidatif di kisaran Rp 18.050 hingga Rp 18.200 per dolar AS.
Pada perdagangan Rabu (4/11/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,04 persen ke level Rp 18.168 per dolar AS. Pelemahan terjadi meski indeks dolar AS justru mengalami penurunan.
Berbeda dengan pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) justru menguat 0,04 persen ke Rp 18.140 per dolar AS. Posisi itu naik Rp 8 dibandingkan Selasa (3/11/2026) sebesar Rp 18.148 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah pada Kamis ini bergerak di rentang Rp 18.100 hingga Rp 18.200 per dolar AS. Sementara Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, memproyeksikan rentang lebih lebar, Rp 18.050 hingga Rp 18.200 per dolar AS.
Sentimen utama hari ini adalah rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 oleh BPS. Data tersebut dinilai akan sangat memengaruhi pergerakan rupiah.
Selain itu, pasar juga mencermati ketidakpastian MSCI, arus keluar modal asing, tingginya imbal hasil obligasi AS, dan harga minyak dunia.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp 18.000 hingga Rp 18.300 per dolar AS hingga akhir 2026. Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas rupiah dengan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.









