JAKARTA, SPN – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali mendapat tekanan pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Di tengah menguatnya Dolar AS secara global, Rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900-an, mendekati level psikologis Rp 18.000.
Berdasarkan data pasar spot yang dihimpun hingga Kamis sore (15/10/2026), Rupiah ditutup melemah. Bloomberg mencatat Rupiah ditutup di level Rp 17.959 per Dolar AS, melemah 0,20 persen atau sekitar 35 poin dibanding penutupan sebelumnya di Rp 17.903. Sementara itu, laporan lain mencatat Rupiah merosot ke Rp 17.945, naik 0,28 persen secara harian.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan pelemahan. JISDOR BI pada Kamis berada di level Rp 17.948 per Dolar AS, melemah dari Rp 17.898 pada hari sebelumnya. Perbedaan antara JISDOR dan kurs spot terjadi karena perbedaan metode dan waktu penghitungan.
Sedangkan untuk kurs bank, berdasarkan data Bank Hibank per 16 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB, kurs tengah berada di Rp 16.290 per Dolar AS, dengan kurs beli Rp 16.240 dan kurs jual Rp 16.340. Kurs ini merupakan kurs pembukuan bank dan berbeda dengan kurs pasar antarbank.
Pelemahan Rupiah hari ini tidak lepas dari sentimen eksternal. Inflasi Amerika Serikat pada September 2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan, yakni naik 0,6 persen secara bulanan (MoM), tertinggi dalam lima bulan. Inflasi inti (core CPI) juga naik 2,6 persen secara tahunan (YoY), di atas ekspektasi pasar 2,5 persen.
Data inflasi yang panas tersebut mendorong penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke level tertinggi sejak Mei 2025 dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin pada FOMC Oktober naik menjadi 31,8 persen. Imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun juga naik 12 basis poin ke level 4,90 persen.
Selain itu, sentimen risk-off di pasar saham Asia akibat koreksi saham teknologi dan kekhawatiran konflik Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah di atas $105 per barel turut menambah tekanan bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas Rupiah. Cadangan devisa Indonesia per akhir September 2026 masih kuat di level $146,3 miliar.
Untuk perdagangan hari ini, analis memproyeksikan Rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.865 – Rp 18.050 per Dolar AS. Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan memantau perkembangan kurs melalui kanal resmi Bank Indonesia.








