JAKARTA, SPN — Tenaga Ahli Gubernur DKI Jakarta Bidang Informasi dan Komunikasi, Reinhard Reidolf Sirait, menegaskan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memiliki ekspektasi besar agar masjid tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan, informasi publik, dan ketahanan sosial dalam menghadapi berbagai potensi bencana di Jakarta.
Mewakili Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi dan Informasi Chiko Hakim, Reinhard menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber pada Pelatihan Mitigasi Bencana Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi DKI Jakarta yang diikuti 100 kader takmir masjid dari lima wilayah kota.
“Setahu saya, yang disampaikan Pak Gubernur saat pelantikan pengurus DMI adalah masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan dan ketahanan sosial. Itu menjadi ekspektasi besar beliau terhadap masjid-masjid di Jakarta,” ujar Reinhard saat ditemui SPN, Selasa, di Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara, Selasa, (8/9/2026).
Menurutnya, strategi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah membangun kolaborasi kuat dengan DMI karena masjid merupakan lembaga yang paling dekat dengan masyarakat dan paling memahami kondisi lingkungan di sekitarnya.
“Pemprov memiliki sistem komunikasi yang baik, tetapi kami tidak memiliki kedekatan langsung dengan warga seperti yang dimiliki masjid. Karena itu DMI dan Pemprov harus berjalan seiring dalam menyampaikan informasi dan arahan pemerintah,” ungkapnya
Reinhard menekankan bahwa komunikasi kebencanaan bukan sekadar menyampaikan kabar adanya gempa, banjir, atau abu vulkanik, melainkan memastikan masyarakat memahami tindakan yang harus dilakukan untuk melindungi diri.
“Komunikasi itu harus jelas dan jangan sampai terlambat. Dalam bencana, yang paling penting bukan hanya mengetahui apa yang terjadi, tetapi masyarakat tahu apa yang harus dilakukan,” tegasnya.
Ia mencontohkan saat Jakarta terdampak abu vulkanik, pemerintah bergerak cepat dengan mengeluarkan imbauan penggunaan masker, penyesuaian aktivitas masyarakat, hingga kebijakan pembelajaran jarak jauh sesuai perkembangan situasi.
“Pemerintah harus merespons dengan cepat, jangan menunggu situasi memburuk baru mengambil keputusan. Kecepatan komunikasi akan menentukan keselamatan masyarakat,” kata dia.
Reinhard menjelaskan, masjid memiliki jaringan komunikasi yang sangat efektif untuk menjangkau warga hingga tingkat lingkungan. Sedikitnya ada tiga kanal utama yang dapat dimanfaatkan saat keadaan darurat, yaitu pengeras suara (toa), grup WhatsApp jamaah, dan jaringan relawan.
“Yang paling efektif adalah toa masjid karena bisa langsung didengar masyarakat. Lalu ada WhatsApp group yang hampir dimiliki seluruh pengurus dan jamaah, serta relawan yang dapat menyampaikan informasi secara langsung,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan seluruh pengurus masjid agar hanya menyebarkan informasi yang berasal dari sumber resmi seperti BMKG, BPBD, maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Masjid harus menjadi pusat informasi yang menenangkan masyarakat, bukan ikut menyebarkan hoaks atau informasi yang belum terverifikasi,” tambahnya.
Dukungan nyata Pemprov kepada DMI
Reinhard mengatakan perhatian Gubernur Pramono Anung terhadap DMI tidak hanya sebatas wacana. Berbagai program telah disiapkan untuk memperkuat peran sosial masjid, mulai dari bantuan operasional rumah ibadah, insentif imam dan marbot, hingga dukungan bagi petugas pemulasaran jenazah.
“Di tengah efisiensi anggaran, Pak Gubernur berkomitmen bahwa program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, ibadah, dan kesehatan tidak boleh dikurangi. Justru itu harus diperkuat,” lanjutnya.
Ia berharap seluruh takmir masjid dapat memaksimalkan dukungan tersebut agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat di tingkat akar rumput.
Selain kesiapsiagaan bencana, Reinhard mengajak DMI menjadi bagian dari gerakan Jaga Jakarta yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai gerakan kolektif menjaga kota.
Menurutnya, semangat Jaga Jakarta tidak hanya berlaku saat terjadi demonstrasi atau bencana, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata menjaga lingkungan, termasuk menggalakkan pemilahan sampah di lingkungan masjid sebagai upaya mengurangi risiko banjir dan bencana ekologis.
“Jaga Jakarta bukan sekadar simbol. Ini adalah gerakan masyarakat untuk saling menjaga, menjaga lingkungan, membantu sesama, dan memperkuat ketahanan sosial Jakarta. Saya berharap DMI ikut menyampaikan semangat itu kepada seluruh warga,” tandasnya. ***









