JAKARTA, SPN — “Leker-leker enak, gelar tikar bikin k*n*k,” Demikian sekelumit pantun jenaka itu pernah begitu populer di kalangan anak-anak hingga orang dewasa pada masanya. Kalimat sederhana dengan rima yang mudah diingat itu menjadi bagian dari nostalgia, sama seperti selembar kue leker yang renyah dan manis.
Tradisi itu masih hidup di depan Stasiun Cikini. Di emperan yang dipadati pejalan kaki dan penumpang KRL, sebuah gerobak sederhana milik Fajar nyaris tak pernah sepi pembeli. Aroma mentega yang dipanggang berpadu dengan cokelat dan keju mengundang siapa pun untuk berhenti sejenak.
Fajar mengaku sudah hampir tiga tahun berjualan di lokasi tersebut. Rezekinya, kata dia, cukup menghidupi keluarga dari jajanan tradisional yang tetap dicintai lintas generasi.
“Udah hampir tiga tahun jualan di sini. Alhamdulillah ada rezekinya. Sehari bisa habis sekitar 5 kilogram adonan,” ujar Fajar saat ditemui SPN, Sabtu, (12/9/2026).
Kue leker dibuat dengan cara yang sederhana. Adonan tepung, telur, susu, gula, dan sedikit garam dituangkan ke atas penggorengan bundar kecil, adonan yang nyaris sama dengan adonan crepes ini lalu diputar hingga membentuk lapisan yang sangat tipis. Setelah mulai garing, isian ditaburkan sebelum leker dilipat menjadi setengah lingkaran.
“Prosesnya lebih mudah ketimbang crepes. Cuma pakai penggorengan kecil, diputar-putar sampai tipis, lalu dikasih isian,” katanya.
Nama leker berasal dari bahasa Belanda, lekker, yang berarti enak atau lezat. Kudapan bergaya panekuk tipis ini diperkenalkan pada masa kolonial, kemudian berkembang menjadi salah satu jajanan khas dari Semarang sebelum menyebar ke berbagai kota, termasuk Jakarta.
Ciri khasnya adalah kulit yang lebih tipis dan renyah dibanding crepes modern. Dan dari arti kata leker itu pula pantun jenaka tersebut muncul di masyarakat Batavia.
Di gerobak Cikini, pilihan rasa tetap sederhana namun menggoda. Cokelat susu, cokelat keju, cokelat Milo, Milo keju, dan keju susu dijual seharga Rp10.000. Sementara pisang cokelat, pisang keju, dan varian spesial dibanderol Rp12.000.
Boleh jadi, itulah sebabnya leker tak pernah kehilangan penggemar. Bukan hanya karena harganya terjangkau, melainkan karena setiap gigitan menghadirkan rasa yang sama seperti puluhan tahun lalu renyah, legit, gurih meskipun dimakan saat hati terluka. Luka yang manis bersama kue leker. ***




