JAKARTA, SPN — Sejak Kamis pagi jemaah membanjiri kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, dari berbagai penjuru Jakarta, hingga Jawa Barat untuk menghadiri peringatan Maulid Akhir Khamis ke-106 di Majelis Ta’lim Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, Jakarta Pusat pada Kamis, (10/9/2026).
Maulid akhir khamis menjadi salah satu tradisi maulid tertua yang terus hidup di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur Rano Karno, dan Wali Kota Jakarta Pusat Arifin turut hadir mengikuti rangkaian maulid. Ruang utama majelis, serambi, halaman, hingga kawasan Masjid dan kompleks pemakaman Habib Ali Kwitang nampak dipenuhi masyarakat yang mengikuti pembacaan Maulid Simtudduror, lantunan salawat, dan tausiah para habaib serta alim ulama.

Kehadiran Pramono dan Rano berlangsung sederhana. Keduanya menyatu di tengah jemaah dalam suasana khidmat, mengikuti rangkaian maulid yang telah diwariskan turun-temurun selama lebih dari satu abad.
Untuk diketahui, sejarah Maulid akhir Khamis tidak dapat dipisahkan dari sosok Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi atau Habib Ali Kwitang, putra Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi yang dikenal sebagai Habib Abdurrahman Cikini.
Melanjutkan jejak dakwah ayahnya, Habib Ali menjadikan Kwitang sebagai pusat penyebaran ilmu Islam di Batavia pada awal abad ke-20.
Majelis Ta’lim Al Habib Ali kemudian tumbuh menjadi salah satu majelis taklim tertua di Jakarta dan hingga kini tetap menjadi tujuan ribuan jemaah untuk menghadiri pengajian serta Maulid Akhir Khamis setiap bulan.

Berawal dari Hadramaut, Berlabuh di Kwitang
Dalam tradisi yang diwariskan para habaib, Maulid Akhir Khamis bermula dari Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, penyusun Maulid Simtudduror di Hadramaut, Yaman. Setelah sempat terhenti, penyelenggaraannya dilanjutkan oleh muridnya, Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi, yang membawanya ke Pulau Jawa melalui Jatiwangi (Cirebon), Bogor, hingga Masjid Ampel Surabaya.
Pada 1919, mandat penyelenggaraan diserahkan kepada Habib Ali Kwitang. Setahun kemudian, maulid digelar di kawasan Masjid Al Makmur Tanah Abang, berpindah ke Jam’iyatul Khair, lalu menetap di Kwitang sejak 1921.
Kini, 106 tahun kemudian, tradisi Maulid Akhir Khamis tetap hidup sebagai salah satu warisan spiritual dan budaya Islam yang paling berpengaruh di Jakarta, menghimpun ribuan jemaah dari berbagai daerah setiap kali peringatannya digelar. ***








