JAKARTA (SPN) — Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi DKI Jakarta mengimbau seluruh lembaga penyiaran televisi dan radio memperkuat penyampaian informasi publik terkait dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang dirasakan di wilayah Jakarta.
Ketua KPID DKI Jakarta Ahmad Sulhy mengatakan media penyiaran memiliki tanggung jawab strategis dalam menghadirkan informasi yang cepat, akurat, dan terverifikasi agar masyarakat memperoleh kepastian di tengah situasi kebencanaan.
“Masyarakat membutuhkan informasi yang memberikan kepastian dan panduan. Kecepatan pemberitaan harus dibarengi akurasi dan kehati-hatian agar tidak menimbulkan kepanikan,” kata Sulhy dalam keterangan resminya, dikutip, Rabu, (9/9/2026).
Ia menjelaskan imbauan tersebut sejalan dengan langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengantisipasi dampak abu vulkanik melalui pemantauan kualitas udara, pelaksanaan water mist, penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), serta anjuran penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan.
- Karang Taruna Jakarta Timur Apresiasi Program KLG, Gugum: Gubernur DKI Sangat Peduli, Transjakarta Kini Semakin Inklusif dan Berkelas
- Rangkul Generasi Muda, Kapolda Jermias Rontini Buka Turnamen E-Sport Bhayangkara Cup 2026
- Gabung Militer Asing Tanpa Izin Presiden, DPR Ingatkan WNI Bisa Kehilangan Status WNI
KPID juga meminta lembaga penyiaran mengutamakan informasi dari pemerintah dan instansi berwenang, menghadirkan narasumber yang kompeten, serta menghindari penyebaran informasi spekulatif maupun materi dari media sosial yang belum terverifikasi.
“Televisi dan radio jangan hanya memberitakan peristiwa, tetapi juga menjadi bagian dari mitigasi dengan memberikan edukasi, membangun kewaspadaan, sekaligus menjaga ketenangan masyarakat,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Anak Krakatau kembali mengalami empat kali erupsi pada Selasa siang.
Letusan terakhir terjadi pukul 11.34 WIB dengan durasi 17 detik dan amplitudo maksimum 50–55 milimeter, sementara tinggi kolom abu tidak teramati karena kondisi visual.
PVMBG tetap mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif serta terus memantau perkembangan aktivitas gunung api. ***

