Kisah Arfa dan Dimas, Pelajar 15 Tahun Sewakan Tikar untuk Jamaah Salat Jumat di Masjid Cut Meutia

JAKARTA, SPN — Jakarta yang padat selalu punya cerita dari ruang-ruang kecilnya. Salah satunya terlihat setiap Jumat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ketika jamaah berbondong-bondong mendatangi Masjid Cut Meutia hingga sebagian harus melaksanakan salat di luar ruang utama masjid.

Di tengah kepadatan itu, dua pelajar berusia 15 tahun, Arfa dan Dimas, melihat sebuah kebutuhan sederhana, menyewakan alas untuk bersujud bukan menjual pundak untuk bersandar.

Kepada SPN ia menuturkan, semua dimulai dengan modal membeli tikar plastik dari toko secara lusinan, keduanya kemudian menyewakannya kepada jamaah dengan tarif Rp5 ribu per lembar. Tikar itu bukan untuk dibawa pulang. Setelah salat selesai, jamaah mengembalikannya untuk kembali digunakan pada Jumat berikutnya.

Bagi Arfa dan Dimas, keramaian Jumat di Jakarta bukan hanya soal banyaknya orang yang mencari tempat salat. Ada peluang kecil yang bisa mereka kelola sambil tetap bersekolah.

“Kalau jamaah memang banyak. Masjid dibesarkan juga enggak akan menampung,” ujar Dimas, Jumat (4/9/2026).

Arfa yang tinggal di kawasan Kalipasir, dekat Cikini, mengatakan usaha tersebut membutuhkan modal awal. Harga beli tikar berkisar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per lembar. Mereka membeli secara lusinan untuk dijadikan persediaan.

Tikar plastik tersebut cukup awet dan dapat digunakan hingga bertahun-tahun. Setelah dipakai jamaah, tikar dibersihkan menggunakan kanebo basah dan kemudian dijemur hingga kering.

Perawatan itu bukan semata untuk menjaga barang dagangan tetap awet. Arfa dan Dimas juga memastikan tikar tetap bersih dan terjaga kesuciannya karena digunakan sebagai alas salat.

“Yang penting tetap dijaga kesuciannya, karena dipakai buat salat,ibadah harus suci dari najis,” kata Arfa.

Sebelumnya, Arfa mengaku bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp70 ribu sampai Rp100 ribu setiap Jumat. Namun, usaha tersebut kini semakin ramai dilakukan anak-anak lain dari kawasan sekitar. Persaingan pun meningkat.

Hari ini, misalnya, pendapatan mereka hanya sekitar Rp20 ribu. Meski begitu, ada saja jamaah yang memberikan lebih dari tarif sewa. Sesekali, seorang jamaah memberikan uang Rp20 ribu tanpa meminta uang kembali.

Bagi dua anak yang masih sekolah itu, berapa pun hasilnya tetap menjadi pengalaman.

“Kita masih sekolah, Om” ujar Dimas.

Di tengah Jakarta yang bergerak cepat, usaha kecil Arfa dan Dimas berjalan hanya beberapa jam setiap Jumat. Mereka membawa tikar, menawarkan kepada jamaah, mengumpulkannya kembali setelah salat, lalu membersihkan dan menjemurnya.

Pekan berikutnya, tikar-tikar itu kembali dibawa. Begitu seterusnya.

Sejumlah tikar plastik yang disewakan Arfa dan Dimas kepada jamaah sebagai alas salat Jumat di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat.

Dari keramaian jamaah Masjid Cut Meutia, dua pelajar itu belajar bahwa di kota sebesar Jakarta, peluang kadang tidak datang dalam bentuk pekerjaan besar. Kadang, peluang itu hanya berupa selembar tikar plastik dan kebutuhan seseorang untuk mendapatkan tempat bersujud. ***

No More Posts Available.

No more pages to load.