JAYAPURA, SPN – Kementerian Pertanian menilai progres program cetak sawah tahun 2026 di wilayah Tanah Papua masih rendah dan belum sesuai target yang ditetapkan.
Hal itu dikemukakan Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementerian Pertanian Hermanto dalam rapat evaluasi nasional di Jayapura Sabtu (05/09/2026). Papua menjadi salah satu wilayah dengan target terbesar, namun setelah dilakukan addendum, target tersebut disesuaikan dari sekitar 61.000 hektare menjadi sekitar 15.000 hektar.
“Kami mencatat realisasi cetak sawah di Tanah Papua untuk tahun 2026 ini masih sangat rendah, mencapai sekitar 16-17 persen. Padahal potensi lahan dan kebutuhan pangan di sana besar,” ujar Dirjen.
Data Kementan menunjukkan, dari total target cetak sawah nasional, porsi untuk Papua, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya baru terealisasi di bawah 20% hingga awal September.
Beberapa kendala yang disoroti antara lain keterbatasan akses jalan ke lokasi, kendala pembebasan lahan adat, minimnya alat mesin pertanian, dan kondisi geografis yang menantang.
Kementan meminta pemerintah daerah dan TNI/Polri yang terlibat dalam program ini untuk segera melakukan akselerasi. Pendampingan teknis dan penyediaan alsintan juga akan ditambah.
“Kita tidak bisa menunda. Papua punya potensi jadi lumbung pangan baru. Tapi kalau progresnya begini terus, target swasembada beras 2027 akan sulit tercapai,” tegasnya.
Untuk mempercepat, Kementan akan memfokuskan pada klaster lahan yang sudah siap, mempermudah perizinan, dan menggandeng koperasi serta BUMDes sebagai pengelola.
Selain itu, anggaran bantuan sarana produksi dan pelatihan petani lokal juga akan diprioritaskan agar setelah lahan tercetak, langsung bisa ditanami.
Pemerintah pusat menargetkan 1 juta hektare cetak sawah baru secara nasional hingga 2027. Tanah Papua ditargetkan berkontribusi signifikan karena memiliki hamparan lahan potensial.








