BOGOR, SPN – Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, terus mengembangkan konsep wisata berbasis pengalaman melalui beragam kelas edukasi yang mengajak masyarakat belajar sekaligus berinteraksi langsung dengan tumbuhan dan lingkungan.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan Kebun Raya tidak hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga ruang belajar yang memberikan pengalaman praktis bagi pengunjung.
General Manager Corporate Communication PT Mitra Natura Raya, Zaenal Arifin, mengatakan pendekatan berbasis pengalaman membuat proses pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Ketika seseorang terlibat langsung dalam sebuah proses, pengalaman belajarnya akan berbeda. Peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mencoba dan menghasilkan sesuatu dari proses tersebut,” ujar Zaenal dalam keterangannya, Selasa, (18/8/2026).

Beragam kelas edukasi yang tersedia mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, antara lain kompos, propagasi tanaman buah, tabulampot, kokedama, Nepenthes, terrarium, Platycerium, kultur jaringan, oshibana, hingga ecoprint.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga mengikuti praktik dengan pendampingan fasilitator. Biaya kelas mulai dari Rp65.000 per peserta, di luar tiket masuk Kebun Raya, dengan besaran yang disesuaikan dengan jenis aktivitas dan perlengkapan yang digunakan.
Salah satu kelas yang dikembangkan adalah oshibana, yakni seni membuat karya dengan memanfaatkan bunga dan daun yang dikeringkan menggunakan teknik tertentu. Peserta diperkenalkan pada teknik dasar pengolahan material, kemudian mempraktikkannya secara langsung untuk menghasilkan karya seni.
Istilah oshibana berasal dari bahasa Jepang, yakni “oshi” yang berarti ditekan dan “bana” yang berarti bunga. Teknik tersebut memungkinkan bunga dan daun yang telah dikeringkan tetap mempertahankan bentuk serta warna alaminya sebelum dikreasikan menjadi karya.
Selain mengasah kreativitas, aktivitas oshibana juga membutuhkan ketelitian, fokus, dan kesabaran. Peserta ditantang menyusun material tumbuhan secara cermat sehingga menghasilkan komposisi yang memiliki nilai estetika.
Peserta kelas Oshibana dari Kampung Inggris LC, Aurora (15), mengatakan tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena menyukai seni visual dan estetika bunga.
“Setelah mengikuti kelas edukasi ini, saya jadi tahu bagaimana proses menata dan mengawetkan bunga dengan teknik Oshibana,” katanya.
Peserta lainnya, Arsyad, menilai kegiatan tersebut menjadi aktivitas positif untuk melatih fokus dan kreativitas. Ia juga mendapatkan pengalaman baru mengenai cara membuat karya oshibana yang sebelumnya belum diketahuinya.
Zaenal mengatakan pengembangan kelas edukasi merupakan bagian dari upaya memperluas fungsi ruang konservasi sebagai tempat belajar yang dapat diakses berbagai kelompok masyarakat.
Program tersebut terbuka bagi masyarakat umum, mulai dari anak-anak, keluarga, pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga kelompok yang ingin melakukan kegiatan edukasi di luar ruang kelas.
Konsep serupa juga dikembangkan di kebun raya lainnya yang dikelola PT Mitra Natura Raya sebagai mitra strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Program disesuaikan dengan karakteristik serta potensi masing-masing kebun raya, termasuk koleksi tumbuhan dan lingkungan yang dimiliki.
Melalui pendekatan tersebut, kunjungan ke kebun raya diharapkan tidak berhenti pada aktivitas rekreasi. Setiap kunjungan dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal keanekaragaman hayati, memahami pentingnya konservasi, sekaligus memperoleh pengalaman baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pada akhirnya, kami ingin masyarakat pulang dari Kebun Raya tidak hanya membawa foto atau hasil karya, tetapi juga membawa pengetahuan dan pengalaman baru tentang tumbuhan,” tandasnya. ***









