JAKARTA, SPN — Newport menyampaikan permohonan maaf kepada umat Muslim, tokoh agama, dan masyarakat Indonesia terkait kejadian yang berlangsung di booth Newport saat gelaran musik The Sounds Project pada Minggu (9/8/2026).
Permintaan maaf tersebut disampaikan Newport melalui keterangan resmi yang ditandatangani Direktur Newport, Handoko Sasongko, pada Senin (11/8/2026).
Dalam pernyataannya, Newport menyebut kejadian yang beredar di media sosial telah menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan di tengah masyarakat.
“Newport menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat Muslim, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Indonesia atas kejadian yang menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan yang terjadi,” demikian pernyataan Newport.
Newport juga meluruskan bahwa aktivitas yang menjadi sorotan tersebut bukan merupakan program, konsep promosi, challenge, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh Newport.
Menurut perusahaan, aktivitas itu muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi.
Meski demikian, Newport mengakui terdapat kelemahan dalam pengawasan di lapangan.
Perusahaan menyayangkan situasi tersebut tidak ditangani sebagaimana mestinya saat kejadian berlangsung. Newport menyebut ada pengunjung yang dapat mengambil alih mikrofon dari pembawa acara (MC) di lapangan.
“Tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, kebudayaan, dan adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi,” tulis Newport.
Sebagai tindak lanjut, Newport mengaku telah melakukan evaluasi internal dan mengambil tindakan terhadap personel terkait.
Perusahaan juga memperketat arahan serta prosedur kepada seluruh tim dan mitra yang terlibat dalam kegiatan di lapangan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Newport menegaskan pihaknya menghormati nilai-nilai agama serta sensitivitas yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
“Penghormatan terhadap nilai-nilai tersebut menjadi hal yang penting dalam setiap kegiatan dan interaksi Newport dengan masyarakat,” kata perusahaan.
Newport menyebut insiden tersebut menjadi peringatan sekaligus bahan evaluasi untuk memperbaiki standar operasional.
Perusahaan berkomitmen merumuskan standard operating procedure (SOP) yang lebih ketat, dengan menempatkan aspek penghormatan terhadap nilai religi, adat istiadat, serta etika kemasyarakatan sebagai landasan.
“Manajemen Newport berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak akan pernah terulang kembali di masa mendatang,” demikian pernyataan tersebut.
Di akhir pernyataan, Newport kembali menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang merasa terganggu atau terluka akibat kejadian tersebut.
Direktur Newport, Handoko Sasongko, menandatangani pernyataan resmi tersebut pada 11 Agustus 2026. ***





