JAKARTA, SPN — Peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) ke-55 pada 17 September 2026 menjadi momentum untuk kembali menyoroti keselamatan transportasi. Persoalan ini mencakup transportasi darat, laut, hingga udara yang masih menghadapi risiko kecelakaan dan korban jiwa.
Analis Kebijakan Transportasi sekaligus Ketua Koalisi Warga untuk Transportasi (KAWAT) Indonesia, Azas Tigor Nainggolan, mengatakan pembangunan konektivitas nasional harus berjalan seiring dengan peningkatan keselamatan.
Menurut Azas, tema Harhubnas 2026, “Bersama Membangun Konektivitas untuk Indonesia Emas”, tidak cukup dimaknai sebagai upaya menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.
“Indonesia adalah negara besar yang terdiri dari banyak pulau. Karena itu, dibutuhkan sistem transportasi yang mampu menghubungkan seluruh wilayah sebagai satu kesatuan konektivitas,” ujar Azas dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).
Ia mengatakan pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan transportasi umum yang aman, nyaman, dan terjangkau. Namun, keselamatan masih menjadi tantangan karena kecelakaan transportasi masih terjadi dan menimbulkan korban.
Azas menyoroti data Korlantas Polri yang mencatat 3.288 kecelakaan lalu lintas selama pelaksanaan Operasi Zebra 2025. Dari jumlah tersebut, tercatat 361 korban meninggal dunia dan 542 korban luka berat.
Di sektor laut, perhatian kembali tertuju pada kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa pada 13 September 2026. Kapal yang melayani rute Surabaya-Banjarmasin tersebut membawa 243 orang, terdiri dari 213 penumpang dan 30 awak kapal.
“Dalam kecelakaan tersebut terdapat korban meninggal dunia dan penumpang yang masih dalam pencarian,” kata Azas.
Menurut dia, kecelakaan transportasi perlu menjadi bahan evaluasi terhadap pengawasan, pelayanan, perawatan sarana dan prasarana, serta penegakan hukum.
Azas menilai pengawasan yang tidak optimal dapat berdampak terhadap operasional sarana transportasi dan penerapan sistem manajemen keselamatan.
“Jika pemerintah ingin membangun konektivitas nasional, maka yang harus dibangun adalah sistem layanan transportasi umum yang berkeselamatan, yakni aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan pembangunan konektivitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Keselamatan hingga tempat tujuan juga harus menjadi bagian utama dari pelayanan transportasi.
“Keselamatan harus menjadi prinsip utama dari pelayanan negara kepada rakyatnya,” kata Azas.
Ia berharap pemerintah memperkuat pengawasan, memastikan perawatan sarana dan prasarana berjalan baik, serta menegakkan aturan keselamatan secara konsisten.
Dengan demikian, peringatan Harhubnas tidak hanya menjadi momentum memperluas konektivitas, tetapi juga memperkuat jaminan keselamatan masyarakat sebagai pengguna transportasi. ***








