JAKARTA, SPN — Di tengah maraknya praktik pinjaman harian atau bank emok yang semakin masif menyasar pedagang pasar dengan iming-iming pencairan cepat dan angsuran harian, Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ) menilai kehadiran pembiayaan formal dari Bank DKI menjadi jawaban nyata untuk melindungi pedagang kecil dari jeratan bunga tinggi yang membuat nilai pembayaran berlipat ganda.
Ketua Umum FPPJ Endriyansyah mengapresiasi kolaborasi Bank DKI bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Perumda Pasar Jaya yang menggelontorkan pembiayaan sebesar Rp48 miliar bagi pedagang Pasar Induk Kramat Jati. Menurutnya, program tersebut merupakan bentuk keberpihakan pemerintah daerah terhadap ekonomi kerakyatan.
“FPPJ mengapresiasi langkah ini sebagai solusi nyata dari Bank DKI untuk pedagang kecil,” ujar Endriyansyah, Selasa (1/9/2026).
Ia menuturkan, selama ini banyak pedagang memilih pinjaman harian karena prosesnya mudah tanpa persyaratan rumit. Namun di balik kemudahan tersebut, pedagang justru dibebani bunga tinggi dan cicilan harian yang pada akhirnya membuat total pembayaran jauh lebih besar dibanding nilai pinjaman awal.
Menurut Endriyansyah, kondisi itu menggerus keuntungan pedagang, menghambat perputaran modal usaha, bahkan membuat sebagian pelaku usaha sulit berkembang karena pendapatannya habis untuk membayar cicilan.
Karena itu, FPPJ menilai pembiayaan formal yang disalurkan Bank DKI merupakan alternatif yang lebih sehat. Selain memberikan akses modal dengan skema yang jelas dan terukur, program tersebut juga membuka kesempatan bagi pedagang untuk memperbesar usaha tanpa terjebak praktik pinjaman berbunga tinggi.
“Langkah ini menstimulasi perekonomian secara langsung di pasar tradisional. Ketika pedagang memiliki modal yang sehat, mereka bisa menambah stok barang, meningkatkan omzet, dan menggerakkan roda ekonomi rakyat,” katanya.
Program pembiayaan di Pasar Induk Kramat Jati telah menjangkau ratusan pedagang dengan total plafon sekitar Rp48 miliar. Melalui akad massal terbaru, akses permodalan kembali diperluas sehingga semakin banyak pelaku UMKM memperoleh pembiayaan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun non-KUR sesuai kebutuhan usaha.
FPPJ berharap Bank DKI terus memperluas program serupa ke pasar-pasar tradisional lainnya di Jakarta. Endriyansyah menegaskan, keberadaan bank pembangunan daerah harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil sebagai penggerak utama ekonomi ibu kota.
“Bank DKI terus berbuat dan hadir untuk pedagang. Ini bukan sekadar menyalurkan kredit, melainkan investasi bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan masa depan UMKM Jakarta,” tutup Endriyansyah. ***









