AMBON, SPN – Perekonomian Provinsi Maluku terus menguat dan menunjukkan tren positif. Pada Triwulan II 2026, ekonomi Maluku tumbuh 5,31 persen secara tahunan (year on year), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,14 persen. Capaian ini menjadi bukti ketahanan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian dunia.
Pertumbuhan tersebut ditopang hampir seluruh lapangan usaha utama. Lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi terbesar terhadap PDRB, mencapai 23,62 persen. Produksi perikanan meningkat sejalan program swasembada pangan, sementara komoditas unggulan seperti pala, cengkeh, dan kelapa terus memberikan nilai tambah bagi masyarakat kepulauan.
Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran juga tumbuh positif, didukung terjaganya daya beli masyarakat, meningkatnya aktivitas distribusi barang antarpulau, serta momentum sosial dan keagamaan. Lapangan usaha konstruksi, industri pengolahan, transportasi, serta jasa keuangan dan asuransi turut mencatat pertumbuhan solid dan konsisten.
Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Maluku pada 2026 berada di kisaran 4,80 sampai 5,60 persen, dengan inflasi terjaga pada 2,5 persen plus minus 1 persen. Proyeksi ini didukung konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah melalui realisasi belanja prioritas nasional, dan investasi swasta yang terus masuk.
Pemerintah Provinsi Maluku mendorong UMKM naik kelas melalui Maluku Manggurebe 2026, digitalisasi, QRIS, dan akses pasar yang lebih luas. Gubernur Hendrik Lewerissa juga mendorong hilirisasi sagu di Seram Bagian Timur menjadi Proyek Strategis Nasional 2027.
Dengan sinergi pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku usaha, ekonomi Maluku diharapkan semakin inklusif, berdaya saing, dan menyejahterakan masyarakat kepulauan. Momentum positif ini harus terus dijaga bersama.









