BEKASI, SPN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi terus melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan dampak lingkungan dari timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu. Salah satunya melalui penyemprotan ecoenzim yang dilakukan bersama Eco Enzyme Nusantara (EEN) Bekasi dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bekasi belum lama ini.
Kegiatan yang berlangsung pada 9-15 Agustus 2026 ini berawal dari gagasan Leader Relawan EEN Bekasi, Emmy Yuli Satsiwiati, yang melihat persoalan timbunan sampah dan potensi emisi gas metana di kawasan TPA.
Sub Koordinator Perencanaan Teknis Bidang PSPLB3 sekaligus Pengawas Lingkungan Hidup Ahli Muda DLH Kota Bekasi, Marlena Widiawati, ST, mengatakan penyemprotan ecoenzim merupakan salah satu upaya pendukung untuk mengendalikan dampak lingkungan dari timbunan sampah.
“Terutama untuk membantu mengurangi bau dan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik di sekitar area timbunan,” ujarnya kepada SPN, Rabu, (19/8/2026).
Ia menjelaskan, timbunan sampah organik secara alami menghasilkan gas landfill, terutama metana, akibat proses penguraian anaerobik. Karena itu, penyemprotan ecoenzim tidak dapat menjadi satu-satunya metode untuk mengendalikan emisi metana.
“Pengendalian metana secara efektif tetap membutuhkan sistem pengelolaan gas landfill, seperti penangkapan dan pemanfaatan atau flare gas, pengaturan timbunan, serta pengelolaan lindi dan sistem operasional TPA yang sesuai,” jelasnya.
Marlena menambahkan, DLH telah melakukan pengukuran kadar metana sebelum dan sesudah kegiatan penyemprotan. Pengukuran tersebut diperlukan untuk mengetahui efektivitas kegiatan berdasarkan data.
“Kami tidak ingin menyimpulkan bahwa kadar metana turun hanya berdasarkan pengamatan visual atau berkurangnya bau. Efektivitas terhadap metana harus dibuktikan dengan data pengukuran pada titik dan kondisi yang terstandar,” katanya.
Selain metana, sejumlah parameter lingkungan juga menjadi perhatian, seperti bau, kualitas udara, gas landfill lainnya, kondisi lindi, kualitas air tanah dan air permukaan, serta kondisi lingkungan di sekitar area timbunan.
Untuk hasil sementara, Marlena menyampaikan kegiatan penyemprotan ecoenzim berjalan dengan baik dan diharapkan memberikan dampak positif, terutama dalam membantu pengendalian bau di area timbunan.
Menurutnya, metode tersebut masih dapat dikembangkan sebagai salah satu inovasi pendukung pengelolaan lingkungan di TPA Sumurbatu. Namun, ecoenzim bukan pengganti sistem pengelolaan TPA secara menyeluruh.
“Seiring dengan upaya Kota Bekasi untuk meninggalkan praktik open dumping menuju pengelolaan sampah yang lebih terkelola, pendekatannya harus dilakukan secara bertahap dan menyeluruh,” ungkapnya.

Ia menuturkan, upaya tersebut meliputi pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengolahan sampah organik, pengolahan residu, pengendalian lindi, pengelolaan gas landfill hingga pengelolaan zona timbunan.
“Ecoenzim kami tempatkan sebagai salah satu inovasi pendukung, khususnya untuk membantu pengendalian bau dan kondisi lingkungan. Sementara pengendalian metana dan transformasi dari open dumping membutuhkan sistem dan teknologi pengelolaan TPA yang lebih menyeluruh,” tandasnya. ***









