Dari Purnama Timur, Sastra Menemukan Ruang Untuk Tumbuh

JAKARTA, SPN — Ada banyak cara untuk merawat sastra. Salah satunya adalah menyediakan ruang agar orang-orang muda dapat bertemu dengan kata-kata, panggung, dan pengalaman berkesenian secara langsung. Semangat itu hadir dalam Festival Komunitas Purnama Dari Timur Vol. 4 yang digelar Komunitas Sastra Jakarta Timur (KSJT) di Pusat Pelatihan dan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Timur, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Festival ini bukan sekadar perhelatan lomba. Di dalamnya terdapat proses mempertemukan berbagai latar, kemampuan, dan pengalaman. Sebanyak 106 peserta hadir mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi lomba baca puisi, cipta puisi, dan menulis cerpen.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2022, Purnama Dari Timur menjadi salah satu ruang yang diupayakan KSJT untuk mempertemukan masyarakat dengan dunia sastra. Tahun keempat penyelenggaraan menunjukkan bahwa kegiatan berbasis komunitas dapat terus bertahan ketika memiliki ruang partisipasi dan dukungan dari berbagai pihak.

Ahmad Prabowo Dirgantara, Ketua KSJT, membuka kegiatan dan menyampaikan sambutan mengenai pentingnya keberadaan ruang kesenian bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Suasana festival tidak hanya diisi oleh kegiatan sastra. Pertunjukan angklung, reog, dan musik turut hadir, demikian pula bazar buku. Perpaduan tersebut membuat festival menjadi ruang perjumpaan berbagai bentuk ekspresi seni.

Di balik terselenggaranya kegiatan tersebut terdapat kerja panitia yang dipimpin Ben Satriaji sebagai Ketua Panitia.

Peserta Mendapatkan Pengalaman

Ketika ditanya mengenai tujuan utama festival, Ben menekankan bahwa keberhasilan kegiatan tidak hanya dilihat dari munculnya nama-nama juara.

“Bagi kami, yang penting adalah peserta mendapatkan pengalaman. Mereka berani tampil, berani menyampaikan karya, kemudian mendapatkan tanggapan dan masukan. Itu semua menjadi bagian dari perjalanan mereka,” ujar Ben.

Ia menambahkan bahwa keberlanjutan menjadi tantangan sekaligus harapan dalam setiap kegiatan komunitas.

“Kami berharap mereka tidak berhenti setelah festival. Tetap membaca, tetap menulis, bertemu dengan komunitas, dan terus belajar. Kalau proses itu berjalan, berarti festival ini punya dampak yang lebih panjang,” katanya.

Proses pembelajaran menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam festival. Para peserta memperoleh evaluasi dari sejumlah juri yang memberikan catatan berdasarkan bidang masing-masing.

Imam Ma’arif memberikan masukan mengenai pembacaan puisi, terutama pentingnya memahami isi karya sebelum menyampaikannya kepada penonton.

Gagasan Dalam Penciptaan Puisi

Kurnia Effendi memberikan perhatian pada pengolahan gagasan dalam penciptaan puisi, termasuk ketika peserta mengangkat tema sejarah. Sementara Saut Poltak Tambunan mendorong para peserta untuk terus menulis dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai proses yang berkelanjutan.

Festival juga memperoleh ruang kolaborasi dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Para pemenang pada cabang Baca Puisi, Cipta Puisi, dan Menulis Cerpen diproyeksikan menjadi wakil wilayah dalam Festival Sastra Jakarta 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 4 November 2026 di Taman Ismail Marzuki, Cikini.

Mewakili Komite Sastra DKJ, Esha Tegar Putra menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya kegiatan sastra yang berlangsung secara konsisten sebagai bagian dari pembinaan, terutama bagi pelajar SMP dan SMA.

Pada penghujung kegiatan, diumumkan para pemenang Festival Purnama Dari Timur Vol. 4.

Untuk Lomba Baca Puisi, Juara I diraih Fariz Naf’an, Juara II Naomi, dan Juara III Kalyana Dewi Mulia.

Pada Lomba Cipta Puisi, Juara I Rafla Bima Pratama, Juara II Syahrani Dea Ananda Putri, dan Juara III Felicia Celinda Lavenia.

Sementara Lomba Menulis Cerpen menempatkan Riant Sabio Aydin sebagai Juara I, Syarifa Putri Adzakia sebagai Juara II, dan Manggar Arundati sebagai Juara III.

Namun, cerita festival tidak selesai ketika piala diserahkan kepada para pemenang. Bagi sebagian peserta, mungkin justru di situlah perjalanan berikutnya dimulai.

Sebab sastra membutuhkan lebih dari sekadar karya. Ia membutuhkan pembaca, penulis, panggung, komunitas, kritik, dan ruang untuk terus bertumbuh.

Purnama Dari Timur hadir dengan semangat itu: menjaga agar cahaya sastra tetap menyala dari ruang komunitas, lalu menemukan jalannya menuju ruang yang lebih luas.(*/Rissa Churria)

No More Posts Available.

No more pages to load.