Dari Nabire ke Istana, Perjuangan Gladys Menjadi Paskibraka Tingkat Pusat

Gladys Manuella Aibekob, calon Paskibraka Tingkat Pusat 2026 asal Papua Tengah, mengikuti latihan bersama peserta dari 38 provinsi di PPSDM Kemedikdasmen, Depok, Jawa Barat.

JAKARTA, SPN – Perjalanan Gladys Manuella Aibekob menjadi calon Paskibraka Tingkat Pusat 2026 penuh perjuangan. Siswi kelas XI SMA Negeri 1 Nabire, Papua Tengah, itu bahkan sempat mengira cita-citanya berakhir saat namanya tidak kunjung dipanggil dalam tahapan seleksi menuju tingkat pusat.

Gladys mengaku sudah menyiapkan kata-kata untuk disampaikan kepada orang tuanya karena merasa tidak lolos. Namun, harapannya kembali muncul setelah seorang purna Paskibraka memanggilnya untuk mengikuti wawancara.

“Saya pikir tamat sudah cita-cita saya. Tapi saat mau menyerah, tiba-tiba kakak purna saya panggil saya dan akhirnya saya peserta terakhir yang diwawancara. Saya bersyukur, puji Tuhan bisa lolos hingga saat ini,” ujar Gladys.

Kini, Gladys menjadi salah satu dari 76 putra-putri terbaik bangsa yang mewakili 38 provinsi untuk menjalankan tugas dalam rangkaian upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026 di Istana Negara, Jakarta.

Gladys merupakan perwakilan pertama dari keluarganya yang berhasil lolos hingga tingkat pusat. Kakaknya sebelumnya merupakan calon Paskibraka yang gugur dalam proses seleksi.

“Saya merupakan perwakilan pertama dari keluarga saya yang bisa lolos hingga Paskibraka tingkat pusat. Kebetulan kakak saya adalah Capaskur (calon paskibraka yang gugur), jadi ini adalah anugerah dan hasil kerja keras serta doa yang tak pernah putus,” katanya saat ditemui usai latihan di PPSDM Kemedikdasmen, Depok, Jawa Barat, Senin (10/8).

Perjalanan Gladys dimulai dari seleksi tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi hingga tingkat nasional. Namanya kemudian diumumkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai salah satu peserta Paskibraka Tingkat Pusat 2026.

Sebelum menekuni Paskibraka, Gladys dikenal memiliki hobi memasak dan menari. Ia juga mempelajari tari Yospan di sebuah sanggar di Papua yang mengajarkan nilai kekompakan, keberagaman dan kasih sayang masyarakat Papua.

Ketertarikannya menjadi Paskibraka tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Ia terinspirasi melihat para purna Paskibraka dari sekolahnya mendapat sambutan setelah kembali bertugas.

“Saya kecil hobi menari, tapi saat SMP sudah ingin jadi Paskibraka, jadi suka ikut gerak jalan. Kakak purna saya dari SMA seperti disambut dari sekolah dan itu memotivasi saya bahwa tahun depan saya juga harus jadi Paskibraka,” tuturnya.

Bagi Gladys, para purna Paskibraka juga menjadi teladan karena menunjukkan nilai kepemimpinan yang tinggi.

Menjadi calon Paskibraka tingkat pusat sekaligus menjadi pengalaman pertama Gladys datang ke Jakarta. Ia menempuh perjalanan udara sekitar enam jam dari Papua untuk mengikuti latihan bersama peserta dari 38 provinsi.

Perbedaan lingkungan dan pola latihan sempat membuatnya harus beradaptasi. Ia juga mengaku sempat merasakan rindu kepada keluarga, khususnya ibunya.

“Bertemu dengan teman-teman baru dari 38 provinsi itu sangat seru dan juga perlu penyesuaian karena kita berbeda-beda dan masih homesick, masih rindu mama. Tapi mulai minggu kedua sampai sekarang sudah terbiasa,” ujarnya.

Gladys berharap pengalaman selama menjadi Paskibraka dapat dibawa pulang ke Papua. Ia ingin menerapkan kedisiplinan, kebersamaan, keteladanan dan keadilan kepada generasi muda di daerahnya.

“Bagi saya nasionalisme adalah kebersamaan, kekompakan dan keadilan,” katanya.

Ia pun memegang teguh pesan kedua orang tuanya agar selalu mengiringi usaha dengan doa.

“Berusaha dan berdoa karena apa pun usaha yang kita lakukan tanpa doa tidak akan ada artinya. Jadi berdoa dan berusaha harus berjalan seiringan supaya mendapatkan hasil yang baik,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.