JAKARTA, SPN — Sejumlah organisasi masyarakat yang mengatasnamakan Aliansi Umat Islam Jakarta Utara menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (15/8/2026). Aksi ini merupakan buntut polemik Newport dan dugaan penistaan agama dalam kegiatan The Sounds Project yang berlangsung di kawasan Ancol.
Massa menuntut adanya evaluasi terhadap penyelenggaraan kegiatan di kawasan wisata tersebut. Mereka juga membawa sejumlah spanduk, salah satunya berukuran sekitar 1 x 5 meter dengan tulisan tegas, “Menuntut Normalisasi Ancol Sebagai Tempat Wisata dan Bukan Tempat Maksiat.”
Sejumlah massa dari majelis taklim terpantau mengikuti aksi tersebut. Elemen Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi) Jakarta Utara juga terlihat berada di antara peserta aksi.
Aksi tersebut berkaitan dengan polemik video yang memperlihatkan adanya tantangan membaca Surah Ad-Dhuha yang dikaitkan dengan hadiah minuman beralkohol merek Newport dalam salah satu stan di The Sounds Project pada 9 Agustus 2026.
Video itu kemudian viral dan memicu kecaman sejumlah pihak. Polisi telah memeriksa sejumlah saksi serta mengamankan dua orang berinisial R dan E yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.
Pihak penyelenggara The Sounds Project maupun pihak terkait juga telah menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan insiden tersebut tidak sesuai dengan arahan penyelenggaraan acara. Sementara proses hukum atas dugaan pelanggaran tersebut masih berjalan.
Gelombang protes kemudian meluas. Pada Jumat (14/8/2026), massa Forum Betawi Rempug (FBR) lebih dahulu mendatangi OT Building di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat.
Aksi berlanjut setelah salat Jumat ketika massa Front Persaudaraan Islam (FPI) menggelar Aksi Bela Al-Qur’an di lokasi yang sama. Dalam aksi tersebut, pihak Orang Tua Group menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada umat Islam dan menyatakan insiden di Ancol merupakan kesalahan teknis di lapangan, bukan instruksi perusahaan.
Aksi di Ancol hari ini juga menjadi tindak lanjut dari sikap FPI DKI Jakarta yang sebelumnya menyatakan akan mendatangi kawasan tersebut.
Sekretaris DPD FPI DKI Jakarta, Habib Haziq bin Ali Haddad, mengatakan pihaknya akan menyampaikan aspirasi agar pengelola Ancol lebih selektif dalam memilih kegiatan yang digelar di kawasan wisata tersebut.
“Kami akan mengadakan aksi lanjutan besok di Ancol,” kata Haziq, dalam keterangannya, Sabtu, (15/8/2026).
Ia juga menegaskan permintaan FPI kepada pengelola Ancol agar lebih selektif dalam menentukan kegiatan yang berlangsung di kawasan tersebut.
“Kami meminta kepada pihak Ancol untuk lebih selektif lagi dalam memilih event,” ujarnya.
Pernyataan tersebut kemudian direalisasikan melalui aksi lanjutan di kawasan Ancol pada Sabtu ini.
Bagi massa Aliansi Umat Islam Jakarta Utara, persoalan yang muncul tidak hanya menyangkut insiden di salah satu stan Newport, tetapi juga menyentuh persoalan pengawasan kegiatan di kawasan wisata.
Massa meminta pengelola Ancol memastikan setiap kegiatan yang digelar tetap memperhatikan karakter Ancol sebagai kawasan wisata, termasuk kepentingan keluarga dan norma yang berlaku di tengah masyarakat.
Tuntutan normalisasi Ancol sebagai tempat wisata dan bukan tempat maksiat menjadi salah satu pesan utama yang dibawa massa dalam aksi tersebut.
Di sisi lain, proses hukum terkait dugaan penistaan agama tetap menjadi ranah aparat penegak hukum. Penentuan ada atau tidaknya tindak pidana nantinya bergantung pada hasil penyelidikan dan proses hukum yang berjalan. ***









