JAKARTA, SPN — Sejarah masuknya Islam ke Nusantara kembali menjadi perhatian setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan arkeologi di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Temuan tersebut dinilai berpotensi mengubah pemahaman mengenai awal kedatangan Islam di wilayah Nusantara. Pasalnya, sejumlah bukti arkeologis di kawasan itu mengarah pada periode yang jauh lebih awal dibandingkan dengan narasi sejarah yang selama ini banyak dikenal.
Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN Irfan Mahmud mengatakan hasil ekskavasi menunjukkan adanya indikasi aktivitas yang berkaitan dengan kedatangan Islam pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.
“Tim menemukan satu temuan penting tentang momen kedatangan Islam yang lebih awal dari yang diduga sebelumnya, abad 7 dan 8,” kata Irfan dalam Webinar Series Forum Kebhinekaan Seri ke-38 di Jakarta, Rabu (12/8/2026), sebagaimana dilansir ANTARA.
Temuan tersebut menjadi penting karena membuka kemungkinan adanya hubungan antara masyarakat di pesisir barat Sumatera dengan jaringan perdagangan dan peradaban Islam pada masa awal.
Selama ini, pembahasan sejarah Islam di Nusantara kerap menempatkan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam pada sekitar abad ke-13 hingga ke-15 sebagai salah satu fase penting dalam proses Islamisasi.
Namun, temuan di Bongal memberikan kemungkinan adanya jejak interaksi dengan dunia Islam beberapa abad sebelumnya.
Tujuh abad yang masih menjadi teka-teki
Irfan menyebut terdapat rentang sekitar tujuh abad antara indikasi awal kedatangan Islam pada abad ke-7 dan ke-8 dengan periode ketika Islam berkembang kuat sebagai kekuatan politik dan kerajaan di Nusantara.
Rentang waktu tersebut dinilai menjadi ruang penting yang masih membutuhkan penelitian lebih mendalam.
“Tujuh abad bukan rentang yang pendek dan banyak lokasi-lokasi. Saya kira dengan penemuan kawan-kawan tersebut akan membuka kesempatan dan upaya-upaya untuk menemukan hal-hal yang baru,” ujar Irfan.
Menurut dia, penelitian di Situs Bongal tidak hanya berkaitan dengan kapan Islam pertama kali hadir di Nusantara, tetapi juga bagaimana masyarakat pada masa itu berinteraksi, berdagang, dan membangun jaringan sosial dengan dunia luar.
Karena itu, penelitian arkeologi perlu melihat sejarah tidak semata-mata dari pusat kerajaan atau kehidupan elite di lingkungan istana.
Temuan Bongal justru membuka peluang untuk mengembangkan kajian mengenai apa yang disebut sebagai arkeologi Islam akar rumput, yakni menelusuri jejak kehidupan masyarakat biasa yang berinteraksi dengan jaringan Islam pada masa awal.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra (Arbastra) BRIN Herry Yogaswara mengatakan temuan di Situs Bongal telah memunculkan dialektika baru di kalangan ilmuwan dan akademisi.
Menurut Herry, perbedaan tafsir terhadap temuan sejarah merupakan bagian dari proses ilmiah selama seluruh argumentasi didasarkan pada bukti.
Ia menilai perdebatan akademis justru diperlukan untuk menguji sejauh mana temuan arkeologi tersebut dapat memperkuat atau mengoreksi narasi sejarah yang sudah ada.
“Saya kira di dalam dunia riset perdebatan itu tidak ada masalah sepanjang berdasarkan evidence (bukti),” kata Herry.
Dengan demikian, temuan Bongal belum serta-merta berarti seluruh narasi sejarah Islam di Nusantara harus diubah. Bukti-bukti tersebut masih perlu diteliti, diuji, dan dibandingkan dengan temuan dari situs-situs lain.
Untuk memperkuat penelitian, BRIN berencana melakukan kajian berskala lebih besar di kawasan pesisir barat Sumatera.
Herry mengatakan BRIN mempertimbangkan pembangunan stasiun lapangan yang dapat mendukung penelitian jangka panjang di kawasan Bongal maupun wilayah Pantai Barat Sumatera.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu para peneliti mengumpulkan lebih banyak data mengenai aktivitas masyarakat masa lalu sekaligus merawat berbagai artefak yang ditemukan.
Penelitian berkelanjutan juga dinilai penting untuk mengisi celah sejarah selama beberapa abad yang hingga kini masih belum banyak diketahui.
Situs Bongal dengan demikian tidak hanya menjadi lokasi penemuan artefak, tetapi juga dapat menjadi salah satu pintu untuk menelusuri kembali hubungan Nusantara dengan jaringan perdagangan dan peradaban Islam dunia pada masa awal.
Jika penelitian lanjutan menemukan bukti yang semakin kuat, Situs Bongal berpotensi memberikan perspektif baru mengenai sejarah Islam Nusantara—bukan hanya tentang kapan Islam berkembang menjadi kerajaan, tetapi juga tentang kapan dan bagaimana hubungan masyarakat Nusantara dengan dunia Islam mulai terbentuk. ***






