JAKARTA, SPN – Bank Indonesia (BI) menegaskan stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama di tengah tingginya suku bunga global yang bertahan lebih lama atau higher for longer.
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan BI sendiri di satu sisi menjaga stabilitas dalam hal ini nilai tukar, karena fenomena higher for longer pasti berdampak terhadap sektor keuangan, sementara di sisi lain BI juga sesuai dengan mandat dari Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), BI harus bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan iklim ekonomi kondusif untuk pertumbuhan sektor riil, dan juga untuk penciptaan lapangan pekerjaan.
“Jadi yang kami selaraskan sekarang adalah kita harus menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Oleh karena itu, stabilisasi itu tetap menjadi prioritas kami, karena iklim ekonomi yang kondusif akan tercapai kalau stabilitas ekonomi terjaga. Sehingga kebijakan moneter akan kami fokuskan untuk stabilitas,” ujar Destry di Jakarta, Jumat (02/10/2026).
Menurut dia, Indonesia menghadapi situasi ketidakpastian tinggi dan juga situasi di level global terkait fenomena higher for longer, (lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama).
Tantangan era higher for longer tercermin dari kenaikan suku bunga bank sentral dunia. The Fed baru saja menaikkan bunga 25 basis poin menjadi 3,75 persen, hingga 4,00 persen pekan lalu, Bank of Japan (BOJ) juga naikkan bunga menjadi 1,25 persen pada September 2026.
Kondisi itu membuat yield obligasi tinggi, inflasi negara maju tinggi, dan daya tarik aset dolar meningkat sehingga menekan arus modal dan nilai tukar negara berkembang termasuk Indonesia.
BI sendiri memiliki berbagai kebijakan, kebijakan utama yaitu moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, serta kebijakan pendukung seperti pendalaman pasar keuangan, ada kebijakan yang inklusif, ramah lingkungan atau green, kebijakan daerah/regional di mana itu semua tentunya menjadi satu kebijakan yang utuh yang dibaurkan.
“Saat ini apa yang jadi concern-nya kita yakni kita butuh suplai valas yang banyak. Oleh karena itu, kami menjalankan kebijakan moneter walaupun kami tidak menaikkan suku bunga BI Rate, tapi kami memberikan suatu inovasi kebijakan dalam bentuk insentif untuk biaya hedging kalau (investor) asing masuk ke sini, capital inflow masuk, kita berikan insentif dalam bentuk pengurangan biaya hedging-nya,” kata Destry.










