JAKARTA, SPN – Industri media didorong melakukan diversifikasi usaha guna menjaga keberlanjutan bisnis di tengah disrupsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang berdampak pada penurunan trafik pembaca.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Banten Media Hub yang digelar di Kota Serang, pada Selasa (30/6) lalu. Dalam diskusi tersebut, akademisi Monash University sekaligus Co-Director Monash Data and Democracy Research Hub, Ika Idris, mengatakan penggunaan AI generatif telah memengaruhi trafik media, terutama media yang berfokus pada pemberitaan umum.
“Angka itu berbeda-beda. Dampak terbesar terutama dirasakan media yang general news karena adanya penggunaan generatif AI yang masif,” ujar Ika.
Menurutnya, media besar menjadi pihak yang paling merasakan dampak tersebut, namun memiliki kemampuan lebih cepat beradaptasi karena didukung sumber daya yang memadai.
“Kalau media kecil mungkin tidak punya tim IT, bahkan tidak punya data, sehingga terlambat menyadari perubahan yang terjadi,” katanya.
Meski demikian, hasil survei Monash Data and Democracy Research Hub terhadap 2.000 responden di 44 kota menunjukkan media yang telah mapan (well established media) masih menjadi sumber informasi yang paling dipercaya masyarakat.
“Ternyata yang paling dipercaya itu well established media, kedua media institusi pemerintah, lalu ketiga penyiaran publik,” ungkap Ika.
Ia juga menilai media yang menjalankan fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah justru memperoleh tingkat kepercayaan publik yang lebih tinggi.
“Semakin media itu kritis terhadap kebijakan pemerintah, maka semakin tinggi pula trust publik ke media tersebut,” tegasnya.
Namun, tingginya tingkat kepercayaan itu belum berbanding lurus dengan minat masyarakat untuk berlangganan media.
“Kita harus memberi tahu publik bahwa kalau mereka percaya, ya harus didukung juga medianya,” tambah Ika.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Suara, Suwarjono, mengatakan keberlanjutan bisnis media menjadi tantangan besar di tengah perubahan pola konsumsi informasi dan menurunnya pendapatan iklan.
“Jurnalisme itu mahal dan kita tidak bisa hanya menghidupi media dari model lama. Karenanya media harus punya model bisnis lain untuk menunjang aktivitas media,” ujar Suwarjono.
Ia menegaskan diversifikasi usaha menjadi salah satu langkah penting agar perusahaan media tetap mampu menjalankan fungsi jurnalistik secara independen dan berkualitas di tengah perubahan lanskap industri media.
Artikel ini tayang perdana di ruang kota. ***
