JAKARTA, SPN – Peluang DKI Jakarta menjadi tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) mendatang semakin menguat. Dalam rapat Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia yang digelar secara daring, mayoritas peserta mengusulkan Jakarta sebagai lokasi yang paling realistis untuk menggelar forum tertinggi organisasi tersebut.
Rapat yang diikuti 17 PWNU dari berbagai daerah pada Rabu (24/6/2026) itu merupakan forum untuk menghimpun aspirasi daerah terkait penentuan lokasi Muktamar. Hasil pembahasan selanjutnya akan menjadi masukan bagi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ketua PWNU Lampung, Dr. H. Puji Raharjo, mengatakan pembahasan difokuskan pada berbagai aspek kesiapan penyelenggaraan.
“Pembahasan difokuskan pada kesiapan lokasi, biaya penyelenggaraan, akses transportasi, keamanan, serta kedekatan dengan basis pesantren sebagai identitas utama NU,” kata Puji Raharjo saat memimpin rapat.
Dalam forum tersebut muncul lima daerah yang direkomendasikan, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sumatera Barat. Dari lima daerah itu, Jakarta menjadi lokasi yang paling banyak mendapat dukungan.
Peserta rapat menilai Jakarta memiliki keunggulan dari sisi akses penerbangan nasional maupun internasional, jaringan transportasi yang terintegrasi, kapasitas hotel dan fasilitas pertemuan yang memadai, serta efisiensi biaya perjalanan bagi peserta dari seluruh Indonesia.
Sementara itu, Jawa Barat berada di posisi berikutnya dengan dukungan terhadap kawasan Cirebon dan Indramayu yang dinilai memiliki basis pesantren kuat. Jawa Timur juga masuk dalam daftar kandidat utama karena memiliki jaringan pesantren yang luas dan fasilitas yang memadai.
Forum juga merekomendasikan agar PBNU segera menetapkan lokasi Muktamar sehingga persiapan dapat dilakukan lebih matang.
“Tempat Muktamar berikutnya perlu ditetapkan lebih awal agar persiapan lima tahun mendatang dapat dilakukan secara lebih matang dan terukur,” demikian salah satu kesimpulan yang disepakati dalam rapat PWNU se-Indonesia. ***





