Viral! Hafalan Surat Ad-Dhuha Disebut Ditukar Miras Newport, Gus Hilmi: “Sudah Kelewatan!”

JAKARTA, SPN — Sebuah video yang memperlihatkan aktivitas promosi minuman beralkohol merek Newport tengah menjadi sorotan tajam di media sosial. Pasalnya, dalam video tersebut tampak hafalan Surat Ad-Dhuha dikaitkan dengan pemberian minuman beralkohol.

Potongan video itu kemudian menyebar di media sosial dan memicu reaksi keras. Konten tersebut dianggap kontroversial karena membawa aktivitas yang berkaitan dengan hafalan Al-Qur’an ke dalam sebuah kegiatan yang juga melibatkan produk minuman beralkohol.

Sorotan keras datang dari Hilmi Firdausi atau yang dikenal sebagai Gus Hilmi. Melalui akun media sosialnya, Gus Hilmi mempertanyakan konsep promosi yang ditampilkan dalam video tersebut.

Gus Hilmi bahkan meminta pihak Newport segera memberikan klarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf.

“Untuk Brand Miras Newport, kalian sudah kelewatan, membuat promosi hafal ayat Al-Qur’an ditukar sama Miras. Segera klarifikasi dan minta maaf. Ini sudah masuk ranah penistaan agama!” demikian bunyi unggahan tersebut dikutip, Selasa, (11/8/2026).

Pernyataan tersebut membuat persoalan semakin ramai diperbincangkan. Warganet kemudian menyoroti bagian video yang memperlihatkan hafalan Surat Ad-Dhuha dikaitkan dengan hadiah berupa minuman beralkohol.

 

Hafalan Al-Qur’an Dibawa ke Promosi Miras
Kontroversi utama bukan semata soal produk minuman beralkohol yang ditampilkan. Perhatian publik justru tertuju pada penggunaan hafalan Surat Ad-Dhuha dalam mekanisme kegiatan yang disebut-sebut memberikan miras sebagai imbalan.
Bagi masyarakat yang melihat potongan video tersebut, perpaduan dua hal itu dinilai sangat sensitif.

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam, sementara minuman beralkohol memiliki persoalan tersendiri dalam perspektif keagamaan. Karena itu, ketika keduanya muncul dalam satu materi promosi, reaksi keras pun tidak terhindarkan.

Video tersebut juga memunculkan pertanyaan besar mengenai siapa yang membuat konsep kegiatan tersebut dan apakah benar merupakan bagian dari program promosi resmi Newport.

Di tengah derasnya kritik, pihak Newport perlu memberikan penjelasan secara terbuka. Klarifikasi penting untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang muncul setelah video tersebut viral.

Di antaranya, di mana kegiatan itu berlangsung, siapa penyelenggaranya, apakah Newport terlibat langsung, serta apa sebenarnya mekanisme kegiatan yang menampilkan hafalan Surat Ad-Dhuha tersebut.

Jika kegiatan tersebut memang merupakan bagian dari aktivitas promosi resmi, publik tentu berhak mendapatkan penjelasan mengenai dasar pemilihan konsep tersebut.

Sebaliknya, apabila video tersebut dibuat atau diselenggarakan oleh pihak lain tanpa keterlibatan resmi Newport, perusahaan juga perlu menjelaskan posisi mereka agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi.

Gus Hilmi dalam unggahannya menilai persoalan tersebut sudah serius dan menyebutnya telah masuk ranah penistaan agama.

Namun, pernyataan tersebut perlu ditempatkan sebagai penilaian atau tudingan dari Gus Hilmi, bukan sebagai kesimpulan hukum. Penentuan apakah suatu tindakan memenuhi unsur tindak pidana tertentu tetap membutuhkan pemeriksaan fakta dan proses hukum oleh pihak berwenang.

Yang jelas, video tersebut telah memantik polemik di ruang publik. Penggunaan hafalan Surat Ad-Dhuha dalam aktivitas yang dikaitkan dengan pemberian minuman beralkohol menjadi titik utama kemarahan dan perdebatan warganet.

Kini perhatian publik tertuju kepada Newport.

Apakah video tersebut merupakan bagian dari promosi resmi? Siapa yang merancang konsepnya? Dan mengapa hafalan Surat Ad-Dhuha sampai dikaitkan dengan pemberian minuman beralkohol?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunggu jawaban resmi dari pihak terkait. ***

No More Posts Available.

No more pages to load.