Tanggapan Sastri Bakry atas Pernyataan Sikap Maman S. Mahayana dan Resolusi BRICS

Avatar photo

Tugas saya mencakup mengkoordinasikan kegiatan nominasi dan komunikasi antara BRICS Secretariat dengan pihak-pihak Indonesia.Memfasilitasi juri yang telah ditunjuk sebelumnya oleh Board of Directors BRICS (melalui Vania Djohan dan Reza Maspaitella).

Menyelenggarakan konferensi pers dan kegiatan diplomasi budaya yang terkait dengan BRICS Literature Award.

“Dengan demikian, setiap langkah dan keputusan yang diambil dilakukan berdasarkan mandat dan otoritas resmi yang telah dikonfirmasi oleh pihak BRICS,” tegasnya.

“Menanggapi pernyataan Maman S. Mahayana yang beredar luas tentang penolakan terhadap hasil keputusan juri, saya menghormati reputasi dan kiprah akademik Maman S. Mahayana, serta pandangan kritis beliau terhadap pentingnya menjaga marwah kesusastraan nasional. Namun, terdapat beberapa hal yang perlu saya klarifikasi,” kilahnya.

Terkait proses komunikasi dan koordinasi:
Sejak awal, ia mengaku telah berupaya menghubungi Maman S. Mahayana dan Anwar Putra Bayu, dua anggota juri yang ia kenal dekat untuk menjembatani koordinasi dan diskusi melalui grup WhatsApp yang dibuat khusus, maupun lewat panggilan telpon.

Harapannya tentu ada kesepakatan kriteria, prosedur, mekanisme dan siapa yang layak diusulkan sebagai calon penerima anugrah sastra bergengsi ini. Namun, tidak ada tanggapan terhadap ajakan diskusi tersebut.

“Saya memahami kesibukan para anggota juri, namun keterbukaan komunikasi sangat dibutuhkan agar tidak muncul salah persepsi,” selanya.

Terkait penambahan nama nominasi:
Penambahan nama Denny JA dalam daftar nominasi dilakukan atas pertimbangan obyektif berdasarkan prestasi dan kiprah literer yang diakui di berbagai forum internasional, serta dengan menghormati daftar nama yang sebelumnya telah diusulkan oleh para juri.

“Saya tidak pernah bermaksud memaksakan pilihan, melainkan menambah alternatif yang layak dan sesuai dengan semangat BRICS: memperkenalkan beragam suara sastra dari negara-negara berkembang,” katanya lagi.

Terkait tuduhan provokatif dan publikasi sikap:
Pernyataan yang disampaikan secara terbuka oleh Maman S. Mahayana telah menimbulkan kesan adanya pertentangan internal dalam panitia Indonesia.

Padahal, pada kenyataannya, sebagian besar dinamika yang terjadi bersumber dari perbedaan informasi administratif di tingkat BRICS, bukan dari keputusan unilateral di Indonesia.

“Saya menyesalkan penyampaian pernyataan tersebut secara publik sebelum ada klarifikasi internal, karena hal ini berpotensi mencederai citra Indonesia di hadapan komunitas BRICS,” pungkasnya.