Sosok Inspiratif : Giyanto Subagio, Penyair Dari Kemayoran

Avatar photo

Rasa persaudaraan, rasa memiliki, dan rasa tanggung jawab berusaha dihadirkan di dalam setiap ruangnya.

MENTAYA DAN KOPS

Komunitas Mentaya Estetika dan Komunitas Planet Senen, adalah dua komunitas yang berbeda, tetapi memiliki nuansa yang sama.

Sama- sama memiliki kepentingan untuk memberdayakan ruang publik menjadi ruang budaya.

Para personil Komunitas Mentaya dan Komunitas Planet Senen, adalah hampir identik.

Antara lain, terdiri dari : Aspur Azhar (almarhum), Giyanto, Imam, Aswin, Ipoer, Ujang GB (almarhum), Antonius, Aghan, Yoko, Tio, dan Zaelani (personil Komunitas Sastra Mentaya Estetika).

Sementara untuk Komunitas Planet Senen. Antara lain: Irmansyah, Imam, Giyanto, Aswin, Ipoer, Sinung, Ipoer, Dion, dan lainnya.

Kegiatan seni dan budaya di Senen itu, berhasil menghadirkan suatu kekuatan gravitasi tersendiri di Jakarta, bahkan mungkin nasional, setelah tenggelam hanya sebagai situs seni dan budaya di masa Chairil Anwar, Bing Slamet, Misbach, dan seterusnya.

Kop’S, kembali berusaha menghidupkannya, dengan menghadirkan kembali tokoh -tokohnya, seperti Misbach, Harmoko, Deddy Mizwar.

Dan mereka menyatakan secara terbuka dan ekspilisi, turut mendukung kegiatan Komunitas Planet Senen, dalam bentuk orasi politik, seni dan budaya. Bahkan membantu secara material.

Lagi lagi Giyanto Subagio, atau Edo, tingkat ketulusan dan keinginan kuatnya untuk menghidupi ruang kesenian, tidak perlu di pertanyakan.

Jika terkait dengan kepentingan publik, Giyanto, berusaha selalu terdepan.

Beliau tidak hanya dikenal sebagai seorang seniman, melainkan ia juga aktif di ruang pemberdayaan sosial (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri/PNPM), dan menjadi Ketua RW.

Tak memilih posisi dan jabatan. Apalagi kekayaan. Kini, Giyanto Subagio, aktif di ruang kesenian, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta pusat, dan anggota FKDM (Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat), di wilayah Kecamatan Kemayoran, Jakarta pusat.

Jika kapitalis berbicara, tiada hari tanpa Teh Sosro, maka hal itu pun bisa disematkan pada seorang Giyanto Subagio: Tiada ruang publik tanpa Giyanto Subagio.(**/Lasman)