Sosok Inspiratif : Giyanto Subagio, Penyair Dari Kemayoran

Avatar photo

JAKARTA-Setiap individu, memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda, unik, dan menarik. Bahkan Inspiratif.

Demikian halnya, dengan seorang putra Jakarta, dari Kemayoran, Jakarta pusat, Giyanto Subagio, atau lebih dikenal dengan nama ‘Edo’.

Di Kalangan seniman, ia dijuluki sebagai penyair bersepeda, lantaran untuk menyanggah volume aktivitasnya di dalam berkarya di ruang sastra, ia menggunakan alat transportasi roda dua, sepeda.

Tidak mengenal pagi, siang, dan sore, bahkan di malam hari pun, ia menggunakan sepeda.

Sepeda yang digunakannya adalah bukan sepeda yang wah, dan mewah, melainkan sepedanya biasa, sudah lama dan kusam.

Pada roda bannya pun sudah mengelupas, seperti seorang yang sudah memasuki usia senja, rambutnya berubah menjadi putih, lemah (tidak kokoh), dan rontok.

Pemenang lomba Puisi di Kementerian Lingkungan Hidup- sekitar tahun 1990 an dengan hadiah uangnya yang relatif besar ini- tidak dinikmatinya sendiri, dan digunakan untuk berfoya foya (konsumeris dan hedonis).

Uang hadiah itu, digunakan untuk seperlunya, selebihnya dibagikan untuk rekan- rekan seniman dekatnya, termasuk membantu kawannya, untuk mengurangi biaya persalinan istrinya, di rumah sakit.

Tingkat solidaritas, pertemanan, dan kepercayaannya, begitu sangat tinggi, dan dipegang teguh dalam bersikap di ruang apapun, termasuk di dalam ruang kesenian, khususnya ruang sastra.

SEPEDA SIMBOLIK

Sepeda tidak dimaknainya hanya sebagai alat transportasi. Tetapi juga ia, sudah dimaknainya sebagai kekuatan simbolis.

Yakni, mitra perjalanan spiritualnya dalam membangun kekaryaan.

Rinai hujan dan sengatan terik matahari, serta polusi kendaraan adalah suatu hal yang mengakrabi kehidupannya dalam beraktivitas.

Bagi dirinya, dunia luar bukanlah suatu halangan untuk merefleksikan kekuatan makna jiwa dan spiritualnya.

Bukankah Marcus Aurelius, raja Romawi, pernah membuat sabda kekuasaannya, bahwa kecerdasan, kesehatan, dan seterusnya, adalah suatu hal yang bersifat insidentil, dan bukan substantial.

Selain kedua kakinya, alat transformasi manusia yang alami, sepeda sebagai produk teknologi modern itu, lumayan sangat membantu dirinya untuk meringankan beban aktivitasnya dalam ruang kreatif, berkesenian, terutama sastra.

Dengan menggunakan sepeda ia mampu membawa beras dari rumah ke tempat ruang kreatif, di Senen, Jakarta pusat.

Setidaknya, setiap bulan ia membawa beras untuk dikonsumsi para kawan kawannya untuk dikonsumsi secara bersama.

Sementara lauknya, disediakan oleh seorang kawan lainnya.

Pola swadaya dalam berkesenian dan persaudaraan itu, terlihat jelas dalam kehidupan seniman di Senen, di era tahun 1990 an itu.