Setelah Puisi Menjadi Lagu, Apa Selanjutnya? Melati Senja Diajak Menata Masa Depan

JAKARTA, SPN — Lagu telah tercipta, peserta telah bereksperimen, dan sebuah kegiatan telah terlaksana. Namun, perjalanan sebuah event seni tidak semestinya berhenti pada hasil akhir. Ada proses yang perlu dipelajari, karya yang perlu diarsipkan, dan pengalaman yang perlu diolah menjadi pijakan untuk kegiatan selanjutnya.

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu benang merah POTCASE di Ruang Dengar Puisi dan Lagu (R PdL), Jumat, 9 Oktober 2026. Forum yang digagas Ratu Ayu Neni Saputra tersebut menghadirkan Rissa Churria, Ketua Rumah Baca Ceria (RBC) sekaligus Ketua Satupena Jawa Barat, dan Margo dari Seribu Nada.

Perbincangan berangkat dari pelaksanaan Event Cipta Aransemen Puisi Menjadi Lagu Berbasis AI yang digelar Melati Senja (MS) pada 3–4 Oktober 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan puisi dengan teknologi yang memungkinkan kata-kata diolah menjadi ekspresi musikal melalui bantuan kecerdasan buatan.

Bagi Rissa Churria, keberanian peserta untuk memasuki wilayah kreatif baru merupakan hal yang patut dihargai. Belajar menggunakan teknologi membutuhkan kemauan untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki hasil. Akan tetapi, kemampuan teknis perlu berjalan bersama kejujuran dalam berkarya.

Penggunaan AI, menurut penekanannya, perlu disampaikan secara terbuka. Transparansi menjadi bagian dari tanggung jawab kreator, sekaligus membantu masyarakat memahami proses penciptaan karya di tengah perkembangan teknologi digital.

Tantangan lain muncul setelah kegiatan selesai. Dokumentasi dan publikasi sering kali dianggap sebagai pekerjaan tambahan, padahal keduanya dapat menentukan bagaimana perjalanan sebuah komunitas dikenali oleh publik.

Foto, video, rekaman, dan catatan kegiatan menyimpan lebih dari sekadar kenangan. Semuanya dapat menunjukkan proses, merekam capaian, menjadi bahan evaluasi, serta membangun portofolio yang berguna untuk memperkenalkan kegiatan kepada calon mitra dan masyarakat luas.

Rissa mendorong agar Melati Senja menjadikan dokumentasi, publikasi, dan evaluasi sebagai bagian dari perencanaan kegiatan. Dengan demikian, setiap acara tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan agenda pengembangan berikutnya.

Margo dari Seribu Nada turut mengingatkan bahwa proses menciptakan lagu berbasis AI tetap membutuhkan keterlibatan manusia. Puisi harus dibaca dan dipahami sebelum kreator menentukan genre, tempo, karakter vokal, durasi, serta struktur lagu. Instruksi yang jelas dapat membantu AI menghasilkan alternatif musikal, tetapi hasilnya tetap harus diperiksa dan disempurnakan.

Di sinilah kreativitas manusia menemukan perannya: bukan hanya memberi perintah kepada teknologi, melainkan menentukan arah, menimbang kesesuaian, dan menjaga agar karya tetap membawa jiwa puisi yang menjadi sumbernya.

Dari diskusi tersebut, Melati Senja memperoleh sejumlah bahan evaluasi untuk menata kegiatan berikutnya. Penguatan tata kelola, pengarsipan, komunikasi publik, dan kolaborasi menjadi langkah penting agar kegiatan dapat berkembang secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, sebuah event seni meninggalkan nilai ketika pengalaman di dalamnya tidak hilang bersama berakhirnya acara. Karya perlu dirawat, pembelajaran perlu dibagikan, dan hubungan antarkomunitas perlu terus dijaga. Dengan cara itu, Melati Senja berpeluang tumbuh menjadi ruang kreatif yang bukan hanya menyelenggarakan kegiatan, tetapi juga memelihara proses tumbuhnya para kreator.(*/Las)

No More Posts Available.

No more pages to load.