Rupiah Melemah ke Rp18.060, Proyeksi Hari Ini Rp18.020-Rp18.120

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Jumat 23 Oktober 2026: Rupiah Melemah 0,21 Persen Ke Rp18.060, Proyeksi Rp18.020-Rp18.120. Penyebab: Minyak Brent US$112, Sentimen MSCI, BI Rate 5,75 Persen.
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Jumat 23 Oktober 2026: Rupiah Melemah 0,21 Persen Ke Rp18.060, Proyeksi Rp18.020-Rp18.120. Penyebab: Minyak Brent US$112, Sentimen MSCI, BI Rate 5,75 Persen.

JAKARTA, SPN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Kamis (22/10/2026) dan diprediksi masih tertekan pada hari ini Jumat (23/10/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,21 persen atau 38 poin ke level Rp18.060 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.022.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah terkoreksi 38 poin atau 0,21 persen ke level Rp18.060 per dolar AS.

PROYEKSI HARI INI JUMAT 23/10:

Rizal Taufikurahman memperkirakan, rupiah hari ini (23/10/2026) bergerak pada rentang Rp18.020 hingga Rp18.120 per dolar AS, dengan kecenderungan melemah terbatas selama tidak ada eskalasi geopolitik baru.

Syafruddin menjelaskan, untuk hari ini (23/10/2026) rupiah berfluktuasi pada rentang Rp18.000 sampai Rp18.120 per dolar AS. Di mana level Rp18.000 menjadi batas psikologis penting yang membutuhkan perbaikan sentimen bursa saham dan pasokan dolar yang memadai agar dapat tertembus.

Analis Vibiz Research Center melihat untuk hari ini perdagangan rupiah vs dollar dibuka melemah di Rp18.039, kemudian bergerak terkoreksi ke Rp18.047 di pagi hari, dan terakhir sore ini WIB terpantau di posisi Rp18.060. Rupiah terhadap dollar menjelang akhir pekan ini terlihat akan berada dalam rentang antara Rp17.980 – Rp18.120.

Perdagangan Rupiah Kamis 22 Oktober 2026:

Rupiah dibuka melemah 0,06 persen atau 11 poin menjadi Rp18.033 per dolar AS dari level sebelumnya Rp18.022 per dolar AS. Pelemahan terus berlanjut hingga menembus Rp18.043 pada pukul 11:30 WIB, melemah 0,11 persen atau 21 poin.

Di pasar spot, rupiah mengawali perdagangan dengan melemah 0,19 persen ke Rp18.035, dan terus berlanjut hingga menyentuh Rp18.050.

Sedangkan di pasar luar negeri, rupiah merespons defensif. Pada awal perdagangan sesi pagi, rupiah bisa menguat ke Rp18.063, namun kemudian berbalik melemah ke Rp18.070.

PENYEBAB PELEMAHAN:

– Lonjakan harga minyak dunia jenis Brent, yang menyentuh level US$110 per barel, tertinggi sejak Mei 2026. Melejit 2,98 persen ke US$112,25/barel.

– Aksi jual bersih investor asing
– Kekhawatiran eskalasi geopolitik, termasuk laporan persiapan serangan militer AS dan Israel terhadap Iran

– Keputusan RDG BI yang dinilai ambigu: BI Rate dipertahankan 5,75 persen, namun Deposit Facility naik 25 bps menjadi 5 persen
– Sentimen MSCI, arus keluar modal asing masih berlanjut

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong: “Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS setelah BI diluar perkiraan tidak menaikkan tingkat suku bunga kemarin.”

“Fokus investor masih pada sentimen di pasar ekuitas yang apabila kembali membaik dapat menahan pelemahan atau bahkan menguatkan rupiah,” jelasnya.

Gubernur BI Destry Damayanti: menyatakan, jajarannya terus mewaspadai apa yang terjadi di capital market kita. Dan tentunya kami memonitor outflow yang terjadi sepanjang pergerakan yang terjadi setelah pengumuman MSCI ini.

“Memperkuat kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas,” ujar Destry Damayanti.

BI menyatakan akan mengoptimalkan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut mencakup penguatan insentif guna mendorong masuknya modal asing serta pendalaman pasar uang dan valuta asing.

Dalam dua tahun belakangan ini, rupiah melemah 16,7 persen dari Rp15.465 (21 Okt 2024) ke Rp18.050 (20 Okt 2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.