JAKARTA, SPN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin, 19 Oktober 2026.
Rupiah dibuka melemah 8 poin atau 0,04 persen ke level Rp18.035 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.027 per dolar AS.
Hingga pukul 11.30 WIB, pelemahan rupiah masih berlanjut dan terpantau menyentuh level Rp18.041 per dolar AS, turun 0,07 persen atau 14 poin dari penutupan Jumat (16/10/2026).
Sementara itu, data Bloomberg pukul 09.05 WIB menunjukkan rupiah di pasar spot dibuka melemah 4 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp18.031 per dolar AS. Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) juga bergerak melemah di kisaran Rp18.074 per dolar AS.
Rupiah sempat dibuka menguat tipis di level Rp18.026 per dolar AS pada versi TradingView, naik 0,006 persen dibanding penutupan Jumat Rp18.027 per dolar AS, menunjukkan volatilitas tinggi di awal pekan.
Rupiah Tembus Rp18.000, Terlemah 3 Bulan
Pelemahan ini memperpanjang tekanan terhadap rupiah setelah mata uang domestik menembus level Rp18.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026). Pada Jumat, rupiah ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen ke level Rp18.027 per dolar AS, level terlemah dalam hampir 3 bulan.
Kurs BI Hari Ini
– Kurs Tengah BI: Rp17.948 per dolar AS
– Kurs Beli BI: Rp17.858,3 per dolar AS
– Kurs Jual BI: Rp18.037,7 per dolar AS
Kurs Dolar AS di Bank-Bank Besar
– BCA e-rate: Beli Rp18.045, Jual Rp18.065
– BCA TT Counter / Bank Notes: Beli Rp17.830, Jual Rp18.110
– Bank Mandiri Special Rate: Beli Rp18.035, Jual Rp18.065
– Bank Mandiri TT Counter / Bank Notes: Beli Rp17.800, Jual Rp18.100
– BRI: Beli Rp17.920 (data lengkap BRI/BNI menyusul update pukul 09.07 WIB)
Kurs Mata Uang Lain (BI)
– Euro: Rp20.120,6
– Poundsterling: Rp23.769,45
– Dolar Singapura: Rp13.992,9
– Dolar Australia: Rp12.445,15
– Yen Jepang: Rp11.368,5 (per 100 yen)
– Ringgit Malaysia: Rp4.399,03
– Yuan China: Rp2.682,11
Analis: Rupiah Masih Tertekan Internal & Eksternal
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyampaikan rupiah masih akan berada di bawah tekanan, baik dari faktor internal maupun eksternal.
“Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan internal maupun eksternal, walau sanksi OJK serta hearing BEI mungkin dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar,” ucap Lukman kepada Antara, Senin 19 Oktober 2026.
Tekanan internal datang dari gejolak di Bursa Efek Indonesia (BEI) pascapengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang mengusulkan klasifikasi indeks Indonesia turun dari Emerging Market menjadi Standalone Market. MSCI menilai belum ada kemajuan yang cukup konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia, serta masih ada kekhawatiran signifikan di sekitar disfungsi pasar, termasuk dugaan perdagangan terkoordinasi.
Menyikapi hal tersebut, OJK menjatuhkan sanksi sekaligus denda administratif senilai Rp2,1 triliun kepada tiga emiten, yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Tekanan eksternal masih membayangi. Eskalasi konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina yang kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia dinilai dapat menekan mata uang Garuda.
“Eskalasi di Timur Tengah dan perang Ukraina-Russia kembali melonjakkan harga minyak dunia kembali menekan rupiah,” lanjutnya.
Namun, tekanan eksternal mulai mereda seiring turunnya harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump melonggarkan sanksi ke Rusia. Harga minyak Brent turun 1,30 persen menjadi US$108,43 per barel, WTI turun 0,52 persen ke US$100,88 per barel. Indeks dolar AS juga melemah tipis 0,01 persen ke level 101,82.
BI Rate Jadi Sorotan, Proyeksi Rupiah
Bloomberg Economics memperkirakan Bank Indonesia akan mengerek suku bunga acuannya menjadi 6 persen pada pertemuan Oktober ini. Rupiah telah melemah 1,2 persen terhadap dolar AS dalam sebulan terakhir, berkinerja lebih buruk dibandingkan mata uang Asia lainnya, meskipun BI telah melakukan intervensi yang semakin mengurangi cakupan cadangan devisa.
Analis memperkirakan rupiah masih bergerak dalam kisaran tekanan pada perdagangan hari ini:
– Proyeksi 1: Rp17.950 – Rp18.150 per dolar AS
– Proyeksi 2: Rp18.020 – Rp18.070 per dolar AS
– Proyeksi 3: Rp17.950 – Rp18.100 per dolar AS
– Proyeksi 4: Rp18.000 – Rp18.050 per dolar AS
Bagi pelaku usaha, posisi dolar di atas Rp18.000 dapat meningkatkan biaya impor barang, bahan baku, maupun kewajiban dalam mata uang asing. Sebaliknya, eksportir dan penerima pembayaran dolar berpotensi memperoleh nilai rupiah yang lebih tinggi dari konversi pendapatan mereka.
Pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Rabu (21/10/2026) dan data pertumbuhan kredit, serta data jumlah uang beredar (M2) pada Jumat (23/10/2026).









