Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp 18.040, Pasar Tunggu Keputusan BI

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 21 Oktober 2026 Diprediksi Rp 17.990-Rp 18.040. JISDOR Rp 18.006, Pasar Tunggu RDG BI.
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 21 Oktober 2026 Diprediksi Rp 17.990-Rp 18.040. JISDOR Rp 18.006, Pasar Tunggu RDG BI.

JAKARTA, SPN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (21/10/2026), setelah sempat menguat pada perdagangan Selasa kemarin.

Berdasarkan proyeksi Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp 17.990 hingga Rp 18.040 per dolar AS, dengan potensi ditutup melemah.

Sedangkan ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, memproyeksikan rentang lebih lebar Rp 17.900 hingga Rp 18.080 per dolar AS. Untuk sepekan ke depan, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 18.200 per dolar AS.

Penutupan Kemarin (Selasa 20/10/2026):

– Bloomberg: Rp 17.992 per dolar AS, menguat 54 poin atau 0,30 persen dari Rp 18.046
– JISDOR Bank Indonesia: Rp 18.006 per dolar AS, menguat 44 poin atau 0,24 persen dari Rp 18.050
– Kurs Pajak Kemenkeu 21-27 Oktober 2026: Rp 17.946 per dolar AS, naik Rp 49 dari pekan sebelumnya Rp 17.897

Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah Selasa didorong sentimen positif dari dalam negeri, yakni realisasi investasi Indonesia Januari-September 2026 yang mencapai Rp 1.539,2 triliun atau 75,4 persen dari target tahun ini.

Rinciannya:

– Triwulan III-2026: Rp 528,7 triliun
– PMA: Rp 777,8 triliun (50,5 persen), terbesar industri logam dasar Rp 216,6 triliun

– PMDN: Rp 761,4 triliun (49,5 persen), terbesar transportasi, gudang, dan telekomunikasi Rp 117,8 triliun

– Serapan tenaga kerja: 2.194.496 orang

Selain itu, IHSG rebound 5,65 persen ke level 5.278,89, dan imbal hasil US Treasury turun tipis juga ikut menopang rupiah.

Faktor Tekanan Hari Ini:

– Keputusan RDG Bank Indonesia: Pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang berakhir hari ini Rabu (21/10). Konsensus Bloomberg mayoritas memprediksi BI Rate ditahan di 5,75 persen, tapi 9 dari 27 ekonom memprediksi naik 25 bps ke 6,00 persen.

– Gejolak Timur Tengah: Serangan Houthi ke kamp pelatihan di Provinsi Shabwa, Yaman menewaskan 58 orang dan melukai 200 orang lebih, memicu kekhawatiran pasokan energi.

– Harga Minyak: Masih bertahan di atas US$ 100 per barel, bahkan Brent mendekati US$ 110 per barel.

– The Fed: Pasar masih menanti data klaim pengangguran AS dan flash PMI S&P Global, serta pernyataan pejabat The Fed. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan tidak ingin berprasangka terhadap hasil FOMC mendatang.

– Isu MSCI: Kekhawatiran potensi Indonesia turun dari Emerging Market ke Standalone Market masih membayangi, meski BEI sudah keluarkan saham HSC dari IHSG.

– US Treasury: Yield 10 tahun masih di kisaran 5 persen, dan Indeks Dolar AS (DXY) di sekitar level 102, membatasi ruang penguatan rupiah.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.990 – Rp 18.040 per dolar AS,” ungkap Ibrahim Assuaibi.

“Pergerakan rupiah besok terutama akan ditentukan oleh tiga kelompok sentimen: keputusan RDG BI, arah imbal hasil US Treasury dan dolar AS, serta keberlanjutan pemulihan pasar saham domestik setelah guncangan MSCI,” ujar Syafruddin Karimi.

Syafruddin menilai penguatan kemarin lebih mencerminkan pemulihan sementara setelah kepanikan pasar mereda, bukan perubahan tren pelemahan secara permanen.

No More Posts Available.

No more pages to load.