Riri Satria Siapkan Empat Buku Sekaligus Pada Tahun 2026, Angkat Tema Teknologi, Kebudayaan, dan Kegelisahan Zaman

Avatar photo

Saat ini keempat naskah tersebut masih dalam tahap evaluasi oleh sejumlah penulis dan penyair para sahabatnya, antara lain Nunung Noor El Niel, Rissa Churria, Shantined, Emi Suy, serta Khairani Piliang.

Setelah itu, naskah akan melalui evaluasi akhir oleh Sofyan R.H. Zaid, pimpinan Taresi Books yang direncanakan menjadi penerbit keempat buku tersebut.

Salah satu tanggapan datang dari penyair Emi Suy yang telah membaca “Bom Waktu”. Ia menilai karya tersebut menghadirkan refleksi mendalam tentang kehidupan manusia di tengah laju zaman yang kian cepat.

“Membaca Bom Waktu seperti berdiri di tengah zaman yang bergerak terlalu cepat, lalu seseorang menepuk bahu kita dan berkata: ‘lihatlah lebih pelan’,” ujar Emi.

Ia menambahkan bahwa puisi-puisi dalam buku tersebut tidak hanya berbicara tentang teknologi dan pembangunan, tetapi juga menangkap kegelisahan manusia, ketimpangan, hingga kesunyian yang kerap terabaikan.

Menurutnya, Riri menulis dengan nada tenang namun memiliki daya ledak reflektif yang kuat. Puisi-puisinya tidak menggurui, melainkan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang keadilan, masa depan, dan posisi manusia dalam arus peradaban modern.

Riri sendiri mengakui bahwa proses menuju penerbitan masih menyisakan perasaan lega sekaligus cemas. Ia membuka ruang seluas-luasnya bagi kritik dan masukan dari para pembaca awal.

“Buku-buku ini bukan sekadar hasil menulis, tetapi bagian dari perjalanan panjang, yaitu mengumpulkan, memilih, meragukan, mempercayai, lalu merelakan,” tuturnya.

Meski belum mengetahui bagaimana karya-karyanya akan diterima publik, Riri menyimpan harapan sederhana agar buku-buku tersebut dapat menemukan pembacanya dan memberikan manfaat, sekecil apa pun.

Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, keempat buku tersebut akan resmi diluncurkan pada Mei 2026.(***/Lasman)