Riri Satria, Ketua JSM :  Sepanjang 2025 Denyut Literasi Sastra di Indonesia Tetap Hidup, Beberapa Aspek Justru Menunjukkan Kesegaran Baru

Avatar photo

Karena itu, puisi Gen Z sering sederhana, langsung, bahkan terkesan “terlalu jujur” namun justru di situlah daya tariknya.

“Tantangannya, sastra Gen Z kerap dipandang dangkal atau tidak matang secara estetika oleh generasi sebelumnya. Padahal, ini lebih merupakan perbedaan medium dan zaman, bukan ketiadaan kualitas. Banyak di antara mereka sedang mencari bentuk, bahasa, dan keberanian bersuara. Jika diberi ruang dialog dan bukan penghakiman, bisa jadi mereka berpotensi memperkaya peta sastra Indonesia dengan perspektif baru tentang identitas, mental health, relasi, dan dunia digital,” katanya lagi.

Ke depan, peran sastrawan dan institusi sastra adalah menjembatani alih generasi, bukan menutup pintu.

Sastra perlu hadir di ruang yang akrab bagi Gen Z yaitu sekolah, kampus, panggung terbuka, dan platform digital, tentu saja tanpa kehilangan kedalaman. Jika sastra mau mendengar dan berdialog, Generasi Z bukan ancaman bagi sastra, melainkan masa depannya.

Puisi Dalam Lagu

Dalam wawancara tertulis ini, Riri Satria – dilahirkan di Padang 14 Mei 1970- ditanya juga bagaimana fenomena puisi yang menjelma menjadi lagu, baik melalui tangan komponis seperti Ananda Sukarlan maupun melalui bantuan kecerdasan buatan (AI).

Hal ini menandai satu hal penting yaitu puisi tidak pernah beku. Ia bukan artefak museum yang hanya layak dibaca dalam keheningan buku, melainkan makhluk hidup yang bisa berpindah medium, bernapas dalam bunyi, dan menemukan pendengarnya dengan cara baru. Ketika puisi menjadi musik, ia sedang memperluas wilayah pengaruhnya, keluar dari halaman kertas menuju ruang dengar dan rasa.

“Apa yang dilakukan Ananda Sukarlan lewat art song atau tembang puitik menunjukkan bahwa puisi dan musik memiliki akar yang sama ritme, jeda, serta emosi. Musik tidak “menghancurkan” puisi, justru menyingkap lapisan-lapisan makna yang mungkin tersembunyi di balik kata. Nada memberi tubuh pada metafora, tempo memberi napas pada larik. Buat saya, di titik ini, tafsir menjadi jamak dan itu bukan kelemahan sastra, melainkan kekuatannya,” ucapnya.

Kehadiran AI dalam proses ini membawa dinamika baru. AI mampu mengolah teks puisi menjadi lagu, memilih harmoni, bahkan menentukan suasana musikal dalam hitungan detik.

Namun, di sinilah batas penting perlu ditegaskan bahwa AI adalah alat, bukan pencipta makna. Mesin tidak memiliki ingatan masa kecil, tidak pernah patah hati, tidak mengenal takut, rindu, atau harap. Puisi lahir dari luka dan cinta manusia, sesuatu yang tidak bisa disimulasikan, hanya bisa ditiru, sesuatu yang tidak masuk ke dalam ranah AI sama sekali.