Riri Satria, Ketua JSM :  Sepanjang 2025 Denyut Literasi Sastra di Indonesia Tetap Hidup, Beberapa Aspek Justru Menunjukkan Kesegaran Baru

Avatar photo

“Sastra adalah adalah salah satu pilar penjaga peradaban,” selanya.

Menjawab pertanyaan bagaimana dengan apresiasi pemerintah terhadap denyut sastra Indonesia dan masa depan sastrawan.

“Saya melihat pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan instansi terkait sudah mulai menunjukkan itikad baik, tetapi masih cenderung bersifat programatik dan administratif, belum sepenuhnya menyentuh kehidupan konkret sastrawan,” tegasnya.

Dukungan terhadap penerbitan antologi sastra, seperti yang dilakukan berbagai komunitas sastra adalah langkah positif.

” Namun ke depan, perlu dipikirkan skema subsidi dan pendanaan yang transparan dan berkelanjutan, bukan berbasis kedekatan, lalu pengakuan sastra sebagai kerja kebudayaan, bukan sekadar akivitas pelengkap. Sastra itu karya intelektual,” kata Riri Satria yang karya puisinya telah diterbitkan dalam buku antologi puisi tunggal seperti “Jendela (2016)”, Winter in Paris (2017)”, “Siluet”, “Senja”, dan “Jingga (2019)”.

Masa Depan Sastrawan

Ditanya lagi tentang masa depan sastrawan, Riri Satria mengakui Indonesia memang tertinggal dibanding negara seperti Malaysia yang memiliki konsep Sastrawan Negara.

“Kita perlu memikirkan bentuk penghargaan jangka panjang (residensi, jaminan sosial budaya, anugerah negara), pengakuan negara terhadap sastrawan sebagai arsip hidup kebudayaan bangsa, lalu yang tak kalah penting adalah penghargaan bukan soal kemewahan, tetapi martabat kebudayaan. Kata kuncinya martabat kebudayaan,” ucapnya.

Lalu bagaimana usulan untuk DPR RI tahun 2026 mendatang ?

“Payung hukum yang lebih kuat bagi ekosistem sastra dan literasi, bukan hanya industri kreatif.Penguatan anggaran kebudayaan yang benar-benar sampai ke komunitas akar rumput.Regulasi yang mendukung sastra masuk ke ruang publik dan pendidikan,” pungkasnya.

Terkait alih generasi, penyair dan sastrawan perlu keluar dari zona nyaman. Generasi Z hidup dalam dunia visual, cepat, dan dialogis.

Maka: Sastra perlu hadir dalam format baru seperti pembacaan puisi performatif, musikalisasi, konten digital.Bahasa sastra harus jujur dan relevan, bukan menggurui.

Sekolah dan kampus perlu menjadikan sastra sebagai ruang dialog, bukan sekadar hafalan.Sastra tidak boleh hanya “diajarkan”, tetapi dihidupkan.

Generasi Z dalam dunia sastra menghadirkan paradoks yang menarik di mana mereka sering dianggap jauh dari sastra, tetapi justru sedang menciptakan bentuk sastra yang baru.

Generasi Z tumbuh di dunia digital yang serba cepat, visual, dan interaktif. Mereka jarang datang ke sastra melalui buku tebal atau kanon klasik, melainkan lewat kutipan pendek, puisi mikro, lirik lagu, spoken word, dan narasi personal di media sosial. Bagi mereka, sastra bukan selalu soal “karya besar”, tetapi soal kejujuran emosi dan keterhubungan pengalaman.