Pulihkan Akses Air Bersih, 66 Sumur Bor Dibangun di Wilayah Terdampak Bencana Sumatera

Avatar photo
proses pembuatan sumur bor (foto: birkom pu)
proses pembuatan sumur bor (foto: birkom pu)

Jakarta SPN – Upaya pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera terus dilakukan, salah satunya melalui percepatan penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak. Sebanyak 66 sumur bor air baku dibangun di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, khususnya di fasilitas umum dan kawasan hunian.

Pembangunan sumur bor ini difokuskan untuk mendukung ketersediaan air bersih di masjid, pasar, puskesmas, rumah sakit, perkantoran, sekolah, serta permukiman yang terdampak bencana. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemulihan infrastruktur dasar di wilayah terdampak.

Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya mencakup perbaikan infrastruktur fisik, tetapi juga memastikan akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar, terutama air bersih.

“Ada 66 titik lokasi pembuatan sumur bor air baku yang tersebar di tiga provinsi terdampak sebagai dukungan penyediaan air minum bersih melalui sistem penyediaan air minum yang ada,” ujar Menteri Dody. Jumat (16/01/2026)

Berdasarkan data per 15 Januari 2026, dari total 66 lokasi, sebanyak 57 titik masih dalam proses pengeboran, sementara delapan titik telah selesai dibangun dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.

Sumur bor yang dibangun merupakan sumur bor air dalam dengan kedalaman rata-rata sekitar 100 meter dan diameter lebih dari empat inci. Sumur ini dirancang untuk mengambil air tanah dari akuifer terkekang maupun semi-terkekang melalui metode pengeboran teknis yang dilengkapi uji logging dan pumping test, dengan debit air lebih dari 2 liter per detik.

Untuk mendukung kualitas dan distribusi air, setiap sumur dilengkapi dengan pompa submersible, rumah tenaga listrik, reservoir atau toren berkapasitas lebih dari 1.000 liter, serta hidran umum. Penentuan titik dan kedalaman sumur dilakukan berdasarkan survei geolistrik guna menjamin keberlanjutan serta mutu sumber air.

Kualitas air yang dihasilkan memenuhi parameter utama, antara lain pH sekitar 7,1, kadar besi di bawah 1 mg per liter, serta tingkat kekeruhan di bawah ambang batas. Dengan standar tersebut, air baku yang dihasilkan aman untuk menunjang kebutuhan masyarakat dan operasional fasilitas pelayanan publik.

Seluruh pekerjaan pembangunan sumur bor dilaksanakan secara bertahap dan terintegrasi dengan penanganan infrastruktur lainnya di wilayah terdampak. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait terus dilakukan guna memastikan pekerjaan selesai sesuai target waktu.