JAKARTA, SPN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026.
Pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026), rupiah tercatat melemah 19 poin atau 0,11 perse ke level Rp18.046 per dolar AS, turun dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.027 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah masih berpeluang berfluktuasi dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya.
“Rupiah bakal fluktuatif, namun rentan melemah di rentang Rp18.040 – Rp18.090 per dolar AS,” ungkap Ibrahim.
Sementara itu, dalam periode satu pekan, nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada rentang Rp17.850 sampai Rp18.200 per dolar AS.
Kurs BI Hari Ini
– Kurs Tengah BI: Rp17.948 per dolar AS
– Kurs Beli BI: Rp17.858,26 per dolar AS
– Kurs Jual BI: Rp18.037,74 per dolar AS
– Spot Dunia: Rp18.046,35 per dolar AS
Penyebab Pelemahan: MSCI
Tekanan terhadap rupiah belum terlepas dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal Indonesia. Penilaian MSCI memicu ketidakpastian sehingga pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
“Hal tersebut telah meningkatkan ketidakpastian di pasar modal Indonesia, sehingga membuat investor cenderung menghindari risiko,” papar Ibrahim.
Ruang gerak Bank Indonesia (BI) juga menjadi perhatian. Intervensi di pasar NDF dan Domestic NDF, serta instrumen lainnya diupayakan untuk meredam volatilitas.
“Dalam kondisi seperti ini, kenaikan suku bunga acuan berpotensi jadi pilihan BI untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Bahkan BI diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan pada pertemuan Oktober ke 6 persen,” tambah Ibrahim.








