Lima Buku, Dua Suara, Satu Momentum : Pertemuan Intelektual dan Puitik di 2026

Avatar photo

JAKARTA-Ada sesuatu yang sedang dipersiapkan dengan perlahan, namun penuh kesadaran, sebuah momentum yang akan mempertemukan kata, pengalaman, dan pemikiran dalam satu peristiwa literasi.

Pada pertengahan 2026, Riri Satria dan Emi Suy akan meluncurkan lima buku dalam waktu yang berdekatan.

Bukan sekadar peluncuran, melainkan seperti membuka lima jendela sekaligus: empat dari Riri Satria, satu dari Emi Suy.

Bagi Riri Satria, empat buku itu adalah hasil dari perjalanan panjang yang tidak tergesa-gesa. “Bom Waktu” merekam kegelisahan dalam bentuk puisi. “Gelombang Algoritma” berbicara tentang dunia teknologi yang terus bergerak. “Kata, Rupa, dan Warna” mengajak pembaca melihat kebudayaan dan kemanusiaan dari sudut yang lebih reflektif.

Sementara “Membingkai Kata-Kata” menjadi semacam ruang berbagi tentang bagaimana sebuah esai dilahirkan.

Setelah menerbitkan “Login Haramain” pada 2025, ia memilih untuk melambat. Ia kembali membaca dirinya sendiri melihat tulisan-tulisan lamanya, menyaring, meragukan, bahkan terkejut pada apa yang pernah ia pikirkan. Dari sanalah buku-buku ini tumbuh.

Di sisi lain Emi Suy menghadirkan sesuatu yang berbeda keheningan yang berbicara. Melalui “Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri”, ia mengumpulkan puisi-puisi yang lahir dari luka, tetapi tidak berhenti di sana. Puisi-puisi itu bergerak menuju ketahanan, menuju keberanian untuk pulih.

Buku ini seperti rumah bagi kata-kata yang sebelumnya tersebar di berbagai ruang. Ia telah melewati seleksi redaksi, tetapi yang lebih penting, telah menemukan pembacanya—orang-orang yang merasa “itu saya” ketika membacanya.

Jika dilihat dari sudut teori, karya Emi Suy beririsan dengan gagasan “writing as healing”, di mana menulis bukan hanya mencatat, tetapi juga menyembuhkan.

Seperti yang pernah disinggung oleh Paul Ricoeur, tulisan bisa menjadi kesaksian tentang diri, tentang luka, tentang menjadi manusia.

Peluncuran ini tidak akan berhenti pada seremoni. Akan ada percakapan, cerita tentang bagaimana sebuah ide dicatat, disimpan, diragukan, lalu akhirnya ditulis.

Mungkin di sanalah letak peristiwa sesungguhnya, yaitu ketika penulis dan pembaca saling menemukan.(Lasman)