Jakarta, SPN – Mitos, budaya, spiritualitas, hingga strategi industri perfilman menjadi bahasan utama Festival Film Horor (FFHoror) IX di JTown Food & Entertainment Center, Jakarta Timur. Acara yang berlangsung di Jalan Jatinegara Timur, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin, (21/9/ 2026) menghadirkan praktisi perfilman, sutradara, jurnalis, komunitas serta pengamat film nasional.
Diskusi bertema “Sinkretisme dan Fenomena Film Horor Indonesia” menghadirkan Budi Sumarno, praktisi perfilman, produser, penulis skenario, serta Hasto Broto sebagai sutradara berpengalaman dalam perfilman Indonesia. Diskusi tersebut dipandu Didang Prajasasmita, jurnalis senior sekaligus pengamat film, dalam suasana gayeng yang membahas perkembangan horor Indonesia dari berbagai sudut pandang kreatif dan industri.
Rangkaian acara dibuka penampilan grup musik 7Dunia yang membawakan tiga lagu, sekaligus membangun atmosfer meriah dan hangat khas Festival Film Horor IX bagi para peserta.
Menurut Budi Sumarno, perjalanan film horor berkembang dari cerita rakyat, ritual, dan pertunjukan tradisional hingga menjadi pengalaman sinematik yang dinikmati jutaan penonton Indonesia. Budi menjelaskan, kekuatan film horor Indonesia terletak pada sinkretisme, yaitu pertemuan budaya, tradisi, kepercayaan lokal, dan agama yang menghasilkan makna baru bagi masyarakat.
Ia mencontohkan, mitos Nusantara tidak dipindahkan begitu saja ke layar lebar, melainkan diolah menjadi konflik yang mempertemukan tradisi, kehidupan modern, dan unsur keagamaan Indonesia. Dalam konteks Indonesia yang memiliki keragaman budaya, cerita horor dapat menjadi medium untuk memperkenalkan sejarah, tradisi leluhur, tempat keramat, hingga praktik ritual masyarakat secara luas.
Budi menilai penonton sebenarnya tidak semata menikmati ketakutan, tetapi juga rasa ingin tahu terhadap misteri, identitas makhluk, penyebab teror, hingga akhir konflik cerita tersebut. Dalam diskusi tersebut, Budi membagi perkembangan film horor modern menjadi tiga subgenre utama, yakni Apocalyptic Horror, Demonic Horror, serta Psychological Horror dalam sinema Indonesia.
Apocalyptic Horror berangkat dari ancaman kehancuran dunia atau peradaban, sedangkan Demonic Horror menempatkan iblis, setan, atau kerasukan sebagai sumber ancaman utama dalam cerita.
Sementara Psychological Horror menghadirkan ketakutan melalui trauma, paranoia, rasa bersalah, serta gangguan persepsi manusia sebagai sumber konflik dan tekanan psikologis dalam cerita.Menurut Budi, ketiga pendekatan tersebut kini banyak digunakan sineas Indonesia untuk memperkaya narasi horor, sehingga cerita tidak lagi bergantung pada kemunculan sosok hantu semata.
Menutup paparannya, Budi menegaskan film horor Indonesia bukan sekadar media menakut-nakuti penonton, melainkan sarana memperkenalkan budaya, tradisi, sejarah, kepercayaan, dan masyarakat Indonesia.
Hasto Broto mengatakan setiap sutradara memiliki tanggung jawab menghadirkan karya terbaik, apa pun genre yang dikerjakan, termasuk horor, drama, komedi, maupun komedi horor Indonesia.Menurut Hasto, ketika produser meminta genre tertentu dibuat menjadi film, fokus utama sutradara adalah mengeksekusi cerita dengan kualitas terbaik, sedangkan keberhasilan komersial sulit dipastikan secara pasti.
“Siapa pun sutradaranya pasti ingin membuat film yang terbaik. Genre apa pun, eksekusinya harus bagus. Soal komersial, itu tidak bisa dijamin,” ujarnya kepada peserta diskusi.
Hasto menambahkan, benang merah film horor tetap berada pada kemampuan menghadirkan rasa takut, yang dapat dibangun melalui mitos, tradisi, spiritualitas, maupun konflik manusia dalam cerita.
Ia juga menekankan perfilman Indonesia tidak hanya kaya film horor, tetapi memiliki karya edukatif dan kemanusiaan, termasuk film bertema disabilitas yang membuka perspektif masyarakat.
“Film adalah media yang luas. Ia bisa menakutkan, bisa menghibur, tetapi juga bisa menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan,” kata Hasto dalam diskusi tersebut.
akhir paparannya, Hasto menjelaskan pembagian peran sutradara dan produser: sutradara membangun storytelling serta visual, sedangkan produser menyiapkan strategi bisnis dan pemasaran film. Budi Sumarno menimpali bahwa sutradara sebaiknya fokus menghasilkan film berkualitas, sementara produser bertugas mengurus pemasaran agar karya tersebut bertemu dengan penonton yang tepat.
Ketua Dewan Juri FFHoror, Ncank Mail, menegaskan setiap film lahir dari proses kreatif sehingga tidak ada karya yang langsung dapat disebut jelek dalam penilaian. Menurut Ncank Mail, perbedaan kualitas penilaian sebuah film dipengaruhi pendekatan pembuat karya dan persepsi penonton, sehingga keberhasilan tidak memiliki ukuran tunggal dalam industri.
Ia mengatakan hingga kini tidak ada buku petunjuk yang menjamin film pasti sukses, sehingga sineas perlu peka membaca situasi dan memahami perkembangan pasar secara berkelanjutan. Ncank Mail mempertanyakan perspektif yang seharusnya menjadi pijakan pembuatan film, apakah penulis skenario, sutradara, produser, atau penonton sebagai penerima akhir karya tersebut.
Ia juga menyoroti maraknya film horor Indonesia yang mengangkat mitos, tradisi lokal, dan cerita rakyat, sehingga pembuat film perlu memahami konteks budaya secara mendalam.
Menurut Ncank Mail, sineas memiliki tanggung jawab ketika mengadaptasi budaya lokal, termasuk memertimbangkan kemungkinan perubahan atau distorsi makna mitologi setelah masuk layar lebar Indonesia.
Selain itu, ia mempertanyakan sejauh mana film horor berkontribusi melestarikan mitologi Nusantara sekaligus memperkenalkan kembali kepercayaan tradisional kepada generasi penonton masa kini secara luas.
Fenomena kebangkitan film horor Indonesia juga menjadi perhatian, terutama mengenai hubungan antara keterbukaan masyarakat terhadap spiritualitas dan peluang industri menemukan pasar baru dalam perfilman nasional.
Diskusi FFHoror IX menjadi ruang dialog antara praktisi, sutradara, jurnalis, komunitas, dan penonton untuk melihat horor sebagai hiburan sekaligus cermin budaya nasional Indonesia.
Forum tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan film horor Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ketakutan, tetapi juga identitas, kreativitas, tradisi, spiritualitas, serta strategi industri perfilman nasional.

