Di tengah ketegangan geopolitik, rivalitas ekonomi, dan perpecahan budaya, sastra mengingatkan kita bahwa sebelum kita menjadi warga negara dari sebuah bangsa, kita adalah pembawa kisah.
Kisah tentang cinta.
Kisah tentang kehilangan.
Kisah tentang ketidakadilan dan harapan.
Penghargaan seperti ini bukan sekadar merayakan bakat.
Ia membela martabat bahasa. Ia berkata kepada para penulis—dari Brasil hingga India, dari Tiongkok hingga Afrika Selatan, dari Rusia hingga Indonesia. Dengan sastra, kita tetap menjadi manusia.
Denny juga menyampaikan satu saran agar penghargaan ini bertahan menjadi institusi yang hidup puluhan tahun, bahkan lintas generasi
maka ia harus berdiri di atas fondasi keuangan yang kokoh dan berkelanjutan.
Dana Abadi yang Stabil
Sejarah menunjukkan bahwa penghargaan sastra tidak bertahan hanya karena prestise, melainkan karena adanya dana abadi yang stabil.
Seperti Nobel Prize yang berdiri sejak 1901. Yayasan Nobel mengelola dana warisan Alfred Nobel dan menginvestasikannya, sehingga hadiah diberikan dari hasil pengelolaan investasi tersebut.
Atau Booker Prize, berdiri sejak 1969. Awalnya disponsori oleh Booker McConnell, dan kini didukung oleh yayasan serta sponsor korporasi yang kuat.
Pertanyaannya: siapa yang dapat menjadi donatur bagi BRICS Award untuk Sastra?
Bisa saja perusahaan-perusahaan energi, bank pembangunan, perusahaan teknologi, sovereign wealth funds, atau yayasan filantropi yang berkomitmen pada pendidikan dan pertukaran budaya.
“Karena sastra membutuhkan ketahanan, bukan hanya perayaan,” ujarnya.
“Semoga BRICS Award untuk sastra terus bertumbuh.
Semoga ia menyalakan keberanian dalam diri para penulis.Dan semoga pula ia mengingatkan kita semua bahwa ketika ekonomi naik dan turun, kisah manusia akan terus berjalan,” pungkasnya.
Dubes Rusia bertepuk tangan dengan pidatonya Denny.
Ia juga setuju bahwa literasi Global South harus didorong untuk lebih berkembang lagi dengan kekuatan dana.
“Negara-negara di Global South memiliki kekayaan sastra yang luar biasa, namun publikasinya masih didominasi oleh sastra Barat,” katanya.
Denny JA menyambut baik pernyataan Dubes Rusia dan berharap kerjasama antara Indonesia dan Rusia dalam bidang sastra dapat terus ditingkatkan.
Sementara itu Dikdik Sadikin, Penulis dan juri BRICS Indonesia, juga menyampaikan kegembiraannya.
“Saya gembira Pak Dubes menanggapi saya.Beliau setuju bahwa literasi Global South harus didorong. Kita memiliki kekayaan sastra yang luar biasa,” ucapnyam
Pertemuan tersebut diakhiri dengan tukar menukar cendera mata dan foto bersama.






