JAKARTA– Buku kumpulan puisi berjudul “Keagungan Kota Suci” karya Penyair dan Sastrawan Perempuan Indonesia Halimah Munawir lahir bukan sekedar sebagai karya sastra, melainkan sebuah kado self–appreciation di usia ke-62 tahun.
“Ini adalah manifestasi syukur dan perayaan atas perjalanan hidup yang panjang.Sebuah pengakuan cinta pada diri sendiri, di tengah riuh rendah dunia saat ini,” kata Halimah Munawir kepada wartawan di Jakarta (Minggu 1/2/2026) usai peluncuran (launching) buku puisinya berjudul “Keagungan Kota Suci” yang telah berlangsung pada Kamis lalu (29/1/2026) sekitar pukul 12.00 waktu setempat di Wisma Nusantara Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK) di Mesir.
“Sebagai anak bangsa, launching di Kairo juga merupakan turut memperkuat harmonisasi antara pemerintah Indonesia – Mesir yang sudah terjalin sejak presiden pertama , Soekarno. Karena menurut saya diplomasi bukan hanya dapat dilakukan melalui politik, melainkan juga melalui jalur budaya dan sastra,” katanya lagi.
Pada peluncuran buku kumpulan puisi berjudul “Keagungan Kota Suci ” -diterbitkan oleh penerbit Mesir Dar El Sholeh memuat 45 puisi- dalam 4 bahasa yakni Sunda, Indonesia, Inggris dan Arab ini.
Ikut memberikan kata sambutan yaitu Abdul Muta’ali MA,MIP,Phd, nara sumber DR.(HC) Halimah Munawir (sebagai penulis-red), serta nara sumber A.Satriawan Hariaadi Lc,MA.
Buku kumpulan puisi ini juga adalah pertemuan antara ayat-ayat suci dan debu jalanan kehidupan.
Penulis tidak lari dari kenyataan namun merespon realitas manusia menggunakan Kompas Al-Qur’an.
Hasilnya adalah puisi yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga tajam sebagai kritik dan renungan sosial.
Sebuah Apresiasi Diri
Pada kesempatan tersebut Halimah Munawir, Ketua Umum Obor Sastra Indonesia bercerita jejak langkah dimulai tahun 1995-2025 yakni pada tahun 1995 ibadah haji (awal terkumpulnya rasa dan pengalaman batin).
Periode umroh merupakan perjalanan berkelanjutan (rangkaian perjalanan yang memperkaya perspektif).
Pada November 2025 merupakan titik balik (moment saat umroh, lahirnya ide pembukuan).
Hingga berlangsungnya peluncuran (launching) buku kumpulan puisi “Keagungan Kota Suci” sebagai kado apresiasi diri.
Bedah buku “Keagungan Kota Suci” juga menyelami puisi religi antara Al-Qur’an dan Empiris Sosial sebuah apresiasi diri bagi kehidupan Halimah Munawir.
Hulu kreativitas antara langit dan bumi yaitu 1) Langit ( Kompas Teologis) dimana Al-Qur’an menjadi sumber ‘bahasa langit’ dan pedoman arah yang tak terbantahkan.
2) Bumi (Empiris Sosial) pengamatan tajam terhadap realitas dan lingkungan sekitar.







