SPN JAKARTA – Organisasi Bhinneka Tionghoa Nasionalis Indonesia (BTNI) menyatakan keinginannya untuk diakui sebagai bagian utuh dari masyarakat Indonesia. BTNI menegaskan bahwa anggotanya, yang mayoritas berasal dari etnis Tionghoa, merupakan Warga Negara Indonesia yang lahir dan besar di Indonesia serta memiliki komitmen memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal tersebut disampaikan pendiri BTNI, Erros Djarot, usai acara Gathering BTNI di Jakarta, Sabtu malam (10/1/2026). Ia menyebut BTNI didirikan pada 17 Agustus 2023 dengan semangat persatuan tanpa memandang suku, ras, agama, maupun latar belakang etnis.

Erros mengatakan, pembentukan BTNI dilatarbelakangi masih adanya kesenjangan dan stigma negatif antaretnis, khususnya terhadap etnis Tionghoa, ia juga menegaskan bahwa dirinya dan Ketua Umum BTNI bukan berasal dari etnis Tionghoa.
“Di organisasi ini kami belajar kebersamaan dan persatuan. Tanpa melihat suku, ras, atau agama, karena kita semua adalah bangsa Indonesia,” ujar Erros.
Menurut Erros, sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia juga melibatkan berbagai etnis, termasuk Arab dan Tionghoa, baik dalam dukungan materi maupun perjuangan langsung. Karena itu, ia menilai sudah saatnya seluruh elemen bangsa bersatu tanpa diskriminasi.
Ia juga menyoroti pandangan negatif terhadap etnis Tionghoa yang kerap dikaitkan dengan kesenjangan ekonomi. Menurutnya, kesenjangan tersebut hanya dilakukan oleh segelintir oknum dan tidak mencerminkan kondisi mayoritas etnis Tionghoa di Indonesia.
“Banyak etnis Tionghoa yang hidup sederhana, bahkan bekerja sebagai penyapu jalan, penarik becak, dan pekerja informal lainnya. Jangan disamaratakan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua BTNI berharap organisasi tersebut dapat dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, tidak hanya di kalangan etnis Tionghoa. Ia menilai BTNI dapat menjadi jembatan persatuan dan kebersamaan antarmasyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal BTNI Andry Gunawan, bahwa BTNI fokus pada kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya serta tidak terlibat dalam politik praktis.
“Kami aktif dalam kegiatan sosial, seperti penyaluran bantuan bencana, pembagian hewan kurban saat Iduladha, santunan anak yatim, serta pelestarian budaya daerah Indonesia dalam setiap kegiatan,” ujar Andry.







