JAKARTA, SPN – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan ketahanan pangan Indonesia tetap kokoh di tengah ketegangan geopolitik dan ancaman krisis pangan global. Indonesia berhasil mempertahankan swasembada beras selama dua tahun pemerintahan tanpa impor beras medium.
“Pangan kita, khususnya beras yang menjadi pangan strategis, selama dua tahun pemerintahan saat ini swasembada berkelanjutan. Tahun lalu tidak impor, tahun ini juga tidak impor,” tegas Amran dalam jumpa pers di Jakarta Minggu (8/11/2026).
Amran menyebut ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 25 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Jumlah itu terdiri dari cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog 4,5 juta ton, standing crop 10 juta ton, dan stok horeka / masyarakat 10 juta ton.
Dengan kebutuhan konsumsi 2,5 juta ton per bulan, stok tersebut cukup untuk 10 bulan ke depan, hingga Juli-Agustus 2027. “Insyaallah stok kita aman, aman sampai bulan Juli. Stok kita tertinggi sepanjang sejarah saat ini,” ujarnya.
Di saat Inggris dan Jepang mengimbau warganya menyimpan kebutuhan pokok untuk hadapi darurat, Amran bersyukur Indonesia relatif aman. “Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman,” katanya.
Amran menegaskan impor yang masih ada hanya beras khusus yang tidak ditanam di Indonesia, seperti Basmati, jumlahnya sangat kecil. Sementara yang disebut impor beras medium, ditegaskan hanya selundupan yang sudah ditangkap.
Untuk antisipasi El Nino, pemerintah menyiapkan pompanisasi, optimalisasi lahan, perbaikan irigasi, dan benih tahan kekeringan. Data BPS mencatat inflasi beras tahunan September 2026 hanya 3,73 persen, terendah dalam empat tahun terakhir. Capaian ini, kata Amran, berkat kerja keras petani dan kebijakan pemerintah membangun kemandirian pangan.










